Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2017

Film Santri Backpacker Siap Tayang di AswajaTV

Subang, NU Online. Film karya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang berjudul Santri Backpacker siap ditayangkan di AswajaTV pada bulan Ramadlan mendatang.

Demikian disampaikan Ali Cahyadi, salah seorang kru Film Santri Backpacker di Pesantren Al-Mukhtariyyah, Subang, Sabtu (16/5)

Film Santri Backpacker Siap Tayang di AswajaTV (Sumber Gambar : Nu Online)
Film Santri Backpacker Siap Tayang di AswajaTV (Sumber Gambar : Nu Online)


Film Santri Backpacker Siap Tayang di AswajaTV

"Kemarin kita sudah menyerahkan film karya PCNU Subang kepada pihak AswajaTV, di sana kita diwawancara juga. Insya Allah filmnya akan diputar pada bulan puasa, mengenai tanggal dan waktunya nanti menyusul," papar Ali

NU Online

Ali melanjutkan, bulan Ramadlan dipilih sebagai waktu penayangan film Santri Backpacker karena menyesuaikan jadwal dari AswajaTV yang kini sedang padat acara. "Karena kita ngasih filmnya belakangan jadi ya ngantri, tapi saya tetap berharap agar Pengurus NU di daerah lain bikin film juga," tambahnya.

NU Online

Ali mengatakan, film ini menceritakan tentang perjalanan santri yang mencari ilmu ke tiga pesantren. Di pesantren-pesantren itu mereka mendapatkan pelajaran tentang keberagamaan yang mengusung nilai kasih sayang, bukan paksaan dan kekerasan.

"Kita ingin menyampaikan bahwa pesantren-pesantren yang berafiliasi ke NU itu mengusung Islam rahmatan lil alamin, jangan lupa nanti nonton ya," tutupnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59567/film-santri-backpacker-siap-tayang-di-aswajatv

NU Online

Minggu, 20 Maret 2016

Krisis, Muslim Amerika Minta Bantuan ke Israel Dihentikan

Washington, NU Online. Penghentian sementara operasi pemerintah sejak 17 tahun terakhir mendorong sekelompok Muslim Amerika meminta penghentian bantuan finansial kepada Israel, yang mengatakan bahwa hal ini menambah beban keuangan pada anggaran Amerika.

Ini tidak dapat dibenarkan bahwa kita terus membiayai militer Israel ketika pemerintah kita tidak dapat membayar pegawainya atau membiayai layanan penting lainnya, kata Dr Osama Abu Irshaid, anggota dewan nasional American Muslims for Palestine (AMP), kepada Palestine News Network, pada Rabu, 2 October.

Krisis, Muslim Amerika Minta Bantuan ke Israel Dihentikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis, Muslim Amerika Minta Bantuan ke Israel Dihentikan (Sumber Gambar : Nu Online)


Krisis, Muslim Amerika Minta Bantuan ke Israel Dihentikan

Dukungan tanpa syarat kita pada Israel melukai gambaran seluruh dunia dan melemahkan keamanan kita."

Inilah saatnya mempertahankan uang di rumah sendiri untuk membantu rakyat Amerika yang sangat membutuhkan.

NU Online

Pemerintah Amerika menutup sebagian operasinya pada Selasa, 1 October, setelah Kongres gagal menyepakati anggaran baru.

Lebih dari 700.000 pegawai negeri federal terpaksa diliburkan tanpa dibayar dan taman nasional, museum dan banyak bangunan lain terpaksa ditutup.

NU Online

Pada Selasa, Presiden Barrack Obama bersumpah tidak mengizinkan anggota kongres asal Partai Republik merusak legislasi layanan kesehatan, sebagai syarat untuk memulai pemerintahan.

Mereka menutup operasi pemerintah atas perang ideologi untuk memberi pelayanan asuransi yang terjangkau bagi rakyat Amerika, kata Obama di Gedung Putih.

Dengan kata lain, mereka meminta tebusan untuk melakukan pekerjaan mereka.

Menindaklanjuti penutupan pada Selasa tersebut, AMP mengumumkan rencananya untuk memperluas kampanye penghentian bantuan pada Israel secara nasional.

Iklan tersebut berbunyi Rakyat Amerika memberi Israel $3 milyar dolar (33 trilyun rupiah) per tahun! Akhiri kebijakan apartheid ini! Hentikan bantuan Amerika pada Isreal.

Kelompok penekan pro-Israel seperti J Street dan AIPAC secara aktif bekerja untuk mengarahkan kebijakan luar negeri AS yang mendukung Israel.

Amerika Serikat menyediakan bantuan militer $3.1 milyar setiap tahun, meskipun Amerika dihadapkan pada permasalahan ekonomi domestik. (onislam.net/mukafi niam)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47422/krisis-muslim-amerika-minta-bantuan-ke-israel-dihentikan

NU Online

Jumat, 14 November 2014

Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa

Jakarta, NU Online. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar turut menyayangkan tragedi pembunuhan Salim Kancil aktivis asal Desa Selo Awar-awar, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang mengkritisi praktik penambangan pasir. Menurutnya, kasus ini membuktikan bahwa pengelolaan pertambangan di desa belum tertangani secara baik dan hanya menguntungkan beberapa pihak saja.

"Pengelolaan sumber daya alam di desa memang perlu ditata secara profesional dan menguntungkan semua masyarakat desa. Jangan sampai ada pengelolaan SDA (sumber daya alam) seperti pertambangan yang hanya menguntungkan kepala desa saja," ujar Menteri Marwan, di Jakarta, Senin (5/10), kepada NU Online dalam siaran pers.

Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)


Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa

Pengelolaan SDA seperti pertambangan, menurut Marwan, harus dikelola secara bersama melalui BUMDes, ataupun usaha kelompok lainnya yang difasilitasi oleh pemerintahan desa, sehingga manfaatnya juga bisa dirasakan bersama.

Marwan menjelaskan BUMDes sebagai wadah penguatan ekonomi pedesaan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa, akan tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai sosial dan tradisi gotong royong antarmasyarakat yang saat ini sudah mulai terkikis.

NU Online

"Dengan adanya BUMDes, masyarakat bisa sama-sama saling memiliki dan menjaga aset yang dimiliki oleh desa. Tidak hanya sekadar berorientasi pada materi yang mementingkan sebagian kelompok saja," imbuhnya.

NU Online

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Salim Kancil merupakan petani yang vokal menolak kegiatan penambangan pasir di Desa Selo Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Kapolres Lumajang Ajun Komisaris Besar Fadly Munzir Ismail mengatakan pembunuhan itu dilatarbelakangi perselisihan antara para petani yang produksi pertaniannya rusak akibat kegiatan penambangan dan warga yang mencari nafkah dengan menambang pasir.

Menurutnya, sekelompok warga propenambangan pasir menganiaya Salim, dikenal sebagai Salim Kancil pada Sabtu (26/09) pagi. Selain Salim, beberapa orang menganiaya Tosan, petani yang juga menentang aktivitas penambangan pasir. Tosan luput dari maut dan dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis. (Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62620/menteri-marwan-perlu-tata-kelola-pertambangan-di-desa

NU Online

Selasa, 28 Oktober 2014

Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar

Sumenep, NU Online. Semakin dekatnya gelaran pilkada serentak yang diikuti eskalasi politik yang kian memanas, PCNU Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar acara bertajuk Istighatsah Akbar Demi Keselamatan Sumenep.

Acara yang digelar di halaman masjid Jamik Sumenep, Jumat (4/12) pukul 14.00 sampai selesai diikuti ribuan warga Kabupaten Sumenep.

Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)


Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar

Menurut ketua panitia acara Istighotsah, A Kurdi, kegiatan ini setidaknya diikuti 5000 jamaah baik dari warga NU maupun masyarakat umum yang peduli dengan keselamatan dan keamanan pilkada pada tanggal 9 Desember 2015 nanti.

NU Online

Tidak ada sambutan dari panitia dan pengurus NU. Satu-satunya sambutan disampaikan oleh Kapolres Sumenep, AKBP Rendra Radita Dewayana. Dalam sambutannya, Rendra menyampaikan agar warga Sumenep ikut mendukung pilkada damai, menjaga ketenangan dan keamanan bersama baik sebelum pilkada digelar maupun sesudahnya.

NU Online

Hujan yang turun sebelum acara dilaksanakan seakan menambah khusyu Istighotsah yang dipimpin KH Thayfur Aliwafa dan doa yang dipimpin langsung Rais Syuriyah PCNU Sumenep KH A Basyir AS.

Tampak hadir diantara jamaah dua pasangan calon yang akan memperebutkan kursi kepala daerah Sumenep periode 2015-2020, yakni pasangan Busyo-Fauzi dan Zainal-Eva. (Dayat/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64088/jelang-pilkada-serentak-pcnu-sumenep-adakan-istighotsah-akbar

NU Online

Senin, 17 Juni 2013

Lebih Utama Mana Shalat di Rumah dan di Masjid?

NU Online - Dalam hal ini ulama menjelaskan, laki-laki lebih utama melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid dan perempuan lebih utama melaksanakan shalat fardhu berjamaah di rumah. Penjelasan ini dapat kita lihat dalam kitab I’anatut Tholibin karya Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Ad-Dimyathi juz 2 hal. 5 sebagai berikut:

Baca: Sedekah Atas Nama Orang Meninggal

Lebih Utama Mana Shalat di Rumah dan di Masjid? - NU Online
Lebih Utama Mana Shalat di Rumah dan di Masjid? - NU Online


Lebih Utama Mana Shalat di Rumah dan di Masjid?

قوله: والجماعة في مكتوبة لذكر بمسجد أفضل-- وذلك لخبر: صلوا - أيها الناس - في بيوتكم، فإن أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة.…….. وخرج بالذكر المرأة، فإن الجماعة لها في البيت أفضل منها في المسجد

Artinya: "(Ungkapan Syaikh Zainuddin Al-Malibari: Shalat Fardhu berjamaah di masjid lebih utama bagi laki-laki), hal tersebut berdasarkan hadits: shalatlah kalian di rumah-rumah kalian karena shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang di rumahnya kecuali shalat fardhu……dan di sini terdapat pengecualian bagi perempuan. Untuk perempuan shalat berjamaah lebih utama dilaksanakan di rumahnya dari pada di masjid".

Kemudian, terkait shalat berjamaah untuk suami istri, dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri Ala Syarhi ibn Qosimkarangan karya Syaikh Ibrahim Al-Baijuri pada juz 1 halaman 250, disebutkan begini:

NU Online

وتحصل فضيلة الجماعة بصلاته بزوجته أو نحوها بل تحصيله الجماعة لأهل بيته أفضل

NU Online

Artinya: "Seorang laki-laki juga mendapatkan keutamaan shalat berjamaah dengan melaksanakannya bersama istri atau keluarga yang lain, bahkan pelaksanaan shalat berjamaah bersama keluarga di rumahnya lebih utama."

Sederhananya, bagi perempuan, shalat di rumah itu lebih afdhal walaupun tidak dilarang. Bagi laki-laki, jika di rumah bisa melaksanakan jamaah bersama istri dan anak, itu justru lebih bagus untuk mendidik keluarga. Jika di rumah dikuatirkan justru tidak bisa berjamaah, di masjid bukan larangan. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/lebih-utama-mana-shalat-di-rumah-dan-di-masjid.html

Kamis, 05 April 2012

Kiai 65 Tahun yang Jago Corel Draw Untuk Memaknai Kitab Kuning

NU Online – Sudah sejak 2005, Mbah Abdul Manaf bin Zuhdi (65), yang kini tinggal di Desa Margoyoso Rt. 07 Rw. 03, Kalinyamatan, Jepara, tiap hari selalu di depan laptop memaknai kitab kuning menggunakan Corel Draw, satu-satunya sistem perangkat lunak yang mudah digunakan olehnya untuk menulis arab pegon miring. Dia membereskan baris demi baris kitab kuning agar mudah dipahami para santri dan dai.

Selama 11 tahun menulis itu, kini Mbah Manaf berhasil ngasahi (memaknai gandul arab pegon miring) 5 judul karya ulama klasik hingga berjilid-jilid. Semua kitab yang digarap bertema tentang kewalian, hikmah dan sufisme thariqah. Berikut judulnya: Jamiul Ushul fil Auliya karya Syeikh Muhammad Zliyauddin Musthafa al al-Kamsyakhanawi an-Naqsyabandi. Kitab aslinya ada 380 halaman, namun setelah digunduli Mbah Munif jadi 4 jilid. Karomatul Auliya karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani (Lahir 1256 H). Jumlah halaman: 383. Jadi 3 jilid setelah dicorel Mbah Manaf. Kitab Kasfudz Dzunnun karangan Haji Kholifah.  Halaman aslinya berjumlah ribuan. Baru rampung jadi 2 jilid.

Jawahirul Khomsah karya Syeikh al-Imam al-Allamah al-Hamam Sayyid Muhammad bin Khotiruddin bin Bayazid bin Khowajah. Jadi 2 jilid. Jauhar Ma’aani, manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani karya Syeikh Jauhari Umar Pasuruan.

Risalah al-Ghazali (dalam proses garap) Jumlah halamannya bisa berjilid-jilid karena untuk membuat makna gandul pegon, harus ada spasi lumayan lebar. Satu halaman dibuat Mbah Manaf jadi 9 baris. Padahal, aslinya, -sebagaimana pada Jami’ul Ushul fil Auliya,- per halaman terdiri atas 28 baris. Dari satu halaman kitab asli, jadi 3 halaman setelah dimaknai utawi iki iku.

Kiai 65 Tahun yang Jago Corel Draw Untuk Memaknai Kitab Kuning - NU Online
Kiai 65 Tahun yang Jago Corel Draw Untuk Memaknai Kitab Kuning - NU Online


Kiai 65 Tahun yang Jago Corel Draw Untuk Memaknai Kitab Kuning

Memilih Versi Corel Tentu banyak jalan terjal harus ditempuh. Ketika menggarap Kasyfudz Dnunnun misalnya, ada kendala teknis yang membuat stres. Lafadz Allah, kata Mbah Manaf, hilang huruf “Ha”-nya ketika di-print. Padahal hasil ketikan dalam file Corel, mulai Alif, Lam hingga Ha’, utuh semua hurufnya. Penggarapan berhenti hanya 2 jilid karena hal ini.

NU Online

“Masalahnya ternyata karena saya pakai Corel Draw 14 dengan sistem operasi Windows Seven. Font Traditional Arabic tidak bisa dipakai di sana. Padahal, font lain seperti Arial, Transparent bisa saya pakai. Saya memilih Traditional Arabic karena nyaman dibaca,” tutur Mbah Manaf di rumahnya, Selasa (3 Mei 2016), malam.

Atas pengalaman tersebut, Mbah Manaf menginstal Windows XP untuk menggarap kitabnya. Corelnya tetap pakai versi 14. Cepat loading katanya. Pernah mencoba pakai Corel 17 tapi berat. Windows XP dipilih karena menurutnya lebih bersahabat dengan font arab.

NU Online

“Misalnya ketika menulis huruf wawu yang digandeng dengan mim atau lainnya. Di Windows Seven terlihat terlalu rapat. Kalau di XP bisa tampak jelas dan kayak ada spasinya gitu, kelihatan bagus jadinya,”  erang Mbah Manaf kepada NU Online.

Ada dua laptop yang dipakai. Yang terinstal Seven buat berselancar di dunia maya dan berkomunikasi via Facebook. Sementara yang instalan XP khusus untuk menggarap makna gandul kitab kuning.

“Pertama kali dulu saya pakai Corel 9, 10, 11 dan 12. Ternyata semuanya tidak bisa menulis angka Arab. Setelah ganti menggunakan corel 14 dengan windows XP, ternyata bisa dan sangat mudah,” paparnya.

Dalam pemaknaan kitab kuning itu, Mbah Manaf mengawalinya dengan melakukan scan halaman per halaman. Hasilnya di-print untuk kemudian di-harakat-i huruf per hurufnya secara manual. Tindakan ini dipilih untuk mempercepat kerja. Kekeliruan harakat akan dikoreksi lebih lanjut di Corel Draw menggunakan tool bernama Photo Paint, yakni aplikasi buatan Corel yang bisa digunakan untuk pengeditan gambar dan efek foto.

Kendalanya, ada kitab yang sulit discan karena lipatan jilidnya terlalu sempit. Kitab Kasyfudz Dzunnun salah satu contohnya. Bila teks kitab lain tidak berkolom, khusus kitab ini, kata Mbah Manaf, kolomnya ada dua. Scan tidak efektif mencover seluruh teks halaman. “Terpaksa harus pakai versi digital download, lalu diatur pakai Corel. Saya nggarap gandul ya pakai corel. Word tidak bisa dipakai,” ujarnya.

Dua karya asahan Mbah Manaf: Jamiul Ushul fil Auliya dan Jawahirul Ma'ani

(Foto: NU Online/m abdullah badri) Berawal Dari Waktu Luang Niat Mbah Abdul Manaf memaknai kitab kuning secara digital diawali dari musibah yang menimpa istrinya, Sri Wahyuni. Kala itu, dia harus menunggu istri yang sakit berbulan-bulan tanpa bisa bekerja. Jenuh, akhirnya ia memanfaatkan waktu untuk ngasahi kitabnya secara manual. Ia simpan hasil asahan itu, siapa tahu berguna.

Pertama yang diasahi gandul arab menggunakan tulisan tangan adalah Kitab Jamiul Ushul fil Auliya.. Karena banyak yang tertarik hasil kerja Mbah Manaf itu, ada yang mengusulkan untuk membuat rutinan tiap malam Senin di salah satu rumah warga setempat.

Selama enam tahun rutinan berjalan, Mbah Manaf rajin membagi-bagikan hasil asahan tersebut. Kali ini sudah bukan tulisan tangan. Tapi sudah dalam bentuk cetakan hasil Corel, printer-an yang sudah difoto-copy sesuai jumlah peserta ngaji rutinan.

Mbah Manaf belajar mengoperasikan corel secara otodidak. Ia mengaku tidak pernah kursus dan belajar sebisanya. Itu dimulai ketika jadi guru dan mengajar di Pondok Pesantren Nailun Najah, Kriyan, Kalinyamatan, Jepara atas perintah gurunya, Mbah Hudun . “Awalnya saya minta diajari bagaimana menghidupkan komputer dan mematikannya,” kenangnya.

Melihat ketekunan Mbah Manaf, ada seorang teman yang kemudian memberinya fasilitas komputer pentium dua secara gratis. Itulah alat pertama yang digunakan untuk melanjutkan kerja kreatifnya memaknai kitab kuning.

Sejak saat itu, ia tidak lagi bekerja jualan jamu godok racikannya sendiri. Dulu, setelah lulus dari ponpes, Mbah Manaf memilih ber-dawa’ (menyembuhkan penyakit dengan obat herbal). Pekerjaannya itu terbilang sukses karena punya banyak pelanggan hingga Sumatra, Banten dan kota-kota lain. Selama jualan jamu, Mbah Manaf rajin merantau.

Jamunya laris. Dalil yang selalu digunakan untuk menarik perhatian pembeli adalah: addawa’u larruju’u ilas syabab. “Lam adalah lam ibtida’, maka harus dibaca rafa’ sesudahnya. Artinya begini utawi obat, iku yekti iso balikake, ilas syabab, maring nom,” tandas Mbah Manaf menerangkan dengan gaya utawi iki iku.

Praktis, banyak kiai dan habaib yang menjadi pelanggan setianya. Terutama dari kalangan dewasa dan orang tua. Mengobati orang sakit, bagi Mbah Manaf, sama pahalanya dengan mengajar atau berdakwah. Dia memilih dawa’ daripada dakwah atas alasan ini.

Demi kitab kuning, Mbah Manaf yang pernah nyantri di Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah (MGS) di PP MUS Sarang Rembang periode 1970-1976 ini, meninggalkan profesinya sebagai penjual jamu godok.  esekali mengisi pengajian dan jadi guru panggilan khusus belajar kitab kuning, terutama ilmu alat semacam Nahwu dan Sharaf.

Selama bertahun-tahun, Mbah Manaf menjadi guru privat para putra H Mawar, tetangga desa. Semua anak pengusaha itu diwulang ngaji oleh Mbah Nawar hingga khatam Kitab Nahwu bernama Alfiyah empat kali, lanjut ke syarahnya berjudul Ibnu Aqil, Bahjatul Mardliyyah sekaligus syawahid-nya. “Alhamdulilah khatam semua,” kata Mbah Manaf.

Hidup Sederhana Bersama istrinya, kini Mbah Manaf hidup berdua apa adanya dengan tetap melanjutkan kerja kreatif di depan laptop memaknai kitab kuning. Ada 3 laptop yang ada di ruang tamu, tempat kerjanya yang berukuran kecil. Ketiga laptop tersebut bukan milik pribadinya, melainkan pinjaman dari orang-orang yang peduli.

Mbah Manaf tidak punya cukup uang membeli laptop. “Laptop saya gonta-ganti terus. Tidak pernah beli, silih-silihan (pinjaman, red). Jadi ketika pemilik datang mengambil, saya harus menyerahkan. Pernah pakai laptop anak Kudus malah saya jebolkan IC nya. Pernah dipinjamin pegawai bank asal Pati juga, tapi akhirnya rusak,” akunya.

Laptop saja meminjam, jelas Corel yang dipakai pun tanpa lisensi. Tapi Mbah Manaf tidak menyerah. Hidup serba kekurangan baginya harus tetap bermanfaat. Saking seringnya laptop pinjaman itu rusak, acap kali mendapatkan free biaya servis di beberapa tempat.

“Tukang servis laptop di sini hampir pernah saya datangi semua. Banyak yang kenal. Sering tidak bayar karena kasihan mungkin. Saya kan sudah tua,” terang Mbah Manaf yang ingin belajar Google Map agar tamunya mudah menemukan alamat.

Soal berapa banyak laptop, tinta dan printer yang dihabiskan selama 11 tahun ini, sudah tak terhitung. Dalam 8 bulan saja, pernah 4 kali ganti Cartridge (alat cetak) Printer. Itu belum tumpukan kertas HVS ukuran 80 yang selalu dia beli kalau ada uang. Ketika NU Online datang, keyboard laptop di meja kerjanya tidak berfungsi sehingga harus menggunakan keyboard eksternal berwarna hijau. Kumuh dan hampir rusak.

Tidak banyak yang sanggup menservis laptop yang digunakan Mbah Manaf. Hanya beberapa saja yang mampu menyelesaikan problemnya mengingat serba arab. Mbah Manaf jarang mengetik huruf selain arab. Tiga laptop yang ditunjukkan kepada NU Online semua keyboard asalnya bertulis arab. Sepertinya, Mbah Manaf memang tipe santri tulen tempoe doeloe yang tiap hari menulis menggunakan arab pegon.

Ruang kerja Mbah Manaf dan lemari yang digunakan menumpuk naskah garapannya

(Foto: NU Online/m abdullah badri) Instalan Corel, Windows, Printer dan scanning hingga modem merek Alcatel, semua menggunakan bahasa operasional serba arab. Naskahnya disimpan dalam Harddisk Eksternal berkapasitas 500 giga. “Saya menggunakan Corel hanya untuk maknani kitab kuning. Tidak pernah menggunakannya untuk design banner dan lainnya,” tandas Mbah Manaf.

Naskah yang sudah diprint kertas, ia simpan di rak lemari ruang tamu bersama dua kamus berukuran jumbo yang biasa digunakan. Jika sewaktu-waktu ada yang ingin membeli, tinggal difoto-copy dengan warna kuning berukuran 80. Sudah laku puluhan jilid. Yang membeli para ustad dan dai sekitar Jepara. Berkat karyanya, Mbah Manaf pernah diundang Muktamar Thariqoh di Malang.

Jika Anda ingin membeli, harganya lumayan. Itu karena belum dicetak massal. Perjilid harganya Rp. 400.000,-. Anda harus menyiapkan Rp. 4.400.000,- untuk memesan lengkap 11 jilid. Pakai uang muka dulu agar Mbah Manaf bisa ke Kudus untuk memfoto-copy. Nomor hapenya ada di bawah ini. [www.NU Online/m abdullah badri]

------------------------------------ Biografi Singkat MbahManaf

Nama Lengkap : Abdul Manaf bin Zuhdi

Tempat Lahir : Kawedanan, Pamotan, Rembang, Jawa Tengah

TTL : 16 Mei 1953

Nama Istri : Sri Wahyuni

Anak : Rahmatullah (meninggal saat lahir tahun 1993), Hamdan (anak angkat)

Alamat : Margoyoso Rt. 07 Rw. 03, Kalinyamatan Jepara (sejak 2000)

Pendidikan : Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah (MGS) Sarang (1970-1976), Ponpes Manbaul Khoiriyah Islamiyah (MHI), Bangsalsari, Jember, Jawa Timur.

Nomor Hape : 085327678159

Facebook : Abdul Manaf

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/mbah-manaf-kiai-65-tahun-yang-mahir-corel-draw-untuk-memaknai-kitab-kuning.html

Selasa, 13 September 2011

Kontroversi Tahlilan Menurut Islam

NU Online - Membicarakan tahlil sama saja membicarakan ketidaksepahaman antara orang NU dan orang-orang yang tidak setuju dengan acara tahlilan. Ada sebagian orang menganggap acara tahlilan itu sesat dan bahkan haram menurut mereka. Tentu mereka memiliki alasan tersendiri menurut apa yang mereka pelajari dan mereka pahami dalam persoalan agama dan tradisi. Tanpa dalil tentu mereka tidak akan berani mengharamkan bahkan mengkafirkan pelakunya (Nahdliyyin) sebagai subjek dari acara tahlilan itu.

Kelompok yang anti tahlil kerap menuduh tahlil sebagai bid’ah karena sebagai warisan tradisi agama pra-Islam di Jawa, yaitu Budha dan Hindu, sehingga praktek tahlil hukumnya haram dilakukan karena menyerupai dengan tradisi agama lain. Tuduhan ini dilakukan sebagaimana ketika mereka mengharamkan perayaan maulid nabi Muhammad SAW. karena menyerupai perayaan kelahiran dalam agama lain, yaitu perayaan Natal (Kristen) (Hal. 15).

Pandangan yang serba membuat kesamaan antara tradisi Islam dengan tradisi non-Islam ini beranggapan jika bukan orang Islam yang melakukan pertama kali, berarti itu bid’ah sesat, haram, bahkan kafir jika dilakukan oleh orang Islam. Perlu juga diingat bahwa budaya sarungan itu bukan budaya Islam. Pada masa nabi Muhammad SAW tidak ada. Budaya sarungan umat Islam yang cuma di Indonesia. Itu pun juga berangkat dari budaya agama Hindu yang ada di Indonesia. Anggap saja orang Madura yang kentara dengan budaya sarungnya, dan lihat agama nenek moyang orang Madura sebelum Islam datang, tak lain mayoritas menganut Hindu.

Begitu pula dengan budaya celana yang sudah banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Tempo dulu budaya memakai celana di kalangan Islam Indonesia haram. Hal tersebut dengan suatu dalil dan alasan bahwa orang yang menyerupai suatu, maka mereka merupakan bagian dari mereka. Karena dianggap menyerupai dengan orang Belanda atau Jepang yang beragama non-Islam, maka memakai celana diharamkan. Itu semua merupakan buah dari fanatisme dalam beragama yang mengekang dan mempersulit hidupnya sendiri. Baru ketika mereka sadar bahwa memakai celan itu penting, pengharaman lambat laun menyusut dan rata-rata kiai memakai celana.

Diakui atau tidak, latar belakang tahlil itu memang awalnya merupakan budaya masyarakat Indonesia yang beragama non-Islam sebelum sejarah Islam masuk ke Nusantara ini. Namun karena di satu sisi nabi Muhammad SAW khususnya Islam sendiri yang memiliki sifat menghargai (toleran), maka ekspansi Islam tidak dengan cara merusak dan meniadakan apa yang telah menjadi tradisi masyarakat non-Islam sebelumnya (hlm.10).

Namun, upaya ekspansi Islam ini dengan fleksibelitasnya mampu mengislamkan orang Nusantara ini dengan mudah dan tanpa kekerasan apapun. Tentunya kelenturan dan cara beradaptasi baik yang dijadikan senjata ampuh oleh penyebar Islam tempo dulu.

Secara historis, keberadaan tahlil adalah salah satu wujud keberhasilan islamisasi terhadap tradisi-tradisi masyarakat Indonesia pr-Islam. Tradisi masyarakat Indonesia ketika ada orang meninggal dunia adalah berkumpul di rumah duka pada malam hari untuk berjudi, mabuk-mabukan dan sebagainya. Lambat laun seiring dengan Islam yang mulai menyentuh mereka, acara tersebut diisi dengan nilai-nilai keislaman yang dapat mendatangkan manfaat kepada orang yang meninggal dunia, keluarga duka, serta masyarakat secara umum. Dari sini kemudian tradisi tahlilan berkembang luas di tengah masyarakat seperti yang diamalkan oleh masyarakat saat ini (hlm. v).

Tradisi kumpul-kumpul yang dilakukan oleh masyarakat non-Islam dulu itu tidak dirusak dan tidak disuruh bubar begitu saja oleh penyebar agama Islam dahulu. Jika sebaliknya yang terjadi, maka entah seperti apalagi Islam di mata masyarakat non-Islam dahulu hingga sekarang. Maka dari itu, masyarakat non-Islam yang berkumpul ketika ada acara kematian itu diubah melalui pendekatan pengaplikasian dengan nilai-nilai keislaman sebagai dakwah yang paling jitu dan tidak harus merusak yang sudah ada. Hingga akhirnya acara itu bernilai sebagaimana yang diamanatkan oleh syariat Islam.

Buku Tahlil Bid’ah Hasanah ini tak lain merupakan rasionalisasi dan penalaran dengan menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan al-Hadits mengenai acara tahlilan yang sering diharamkan oleh kalangan non-Nahdliyyin. Pemantapan pemahaman mengenai tradisi, kedamaian, dan eksistensi Islam itu sendiri disuguhi dengan beraneka dalil yang cukup jelas. Bagi mereka yang mengerti metode penyebaran Islam, silakan melihat sejarah tentang penyebaran Islam dan bagaimana Islam ketika itu. Tentunya dengan sifatnya yang fleksibel Islam mampu masuk ke Indonesia. Dengan fleksibilitasnya pula, penyebaran Islam di Nusantara ini tidak harus banyak menumpahkan darah.

Judul : Tahlil Bid'ah Hasanah Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah

Penulis : Muhammad Ma’ruf Khozin

Penerbit : Muara Progresif

Cetakan : I, Juli 2013

Tebal : xviii + 190 hlm. 12 x 17.5 cm

ISBN : 978-602-17206-6-0

Junaidi Khab, santri Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/kontroversi-tahlilan-menurut-islam.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs NU Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik NU Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan NU Online dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock