Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2016

Dipolisikan Berkali-Kali, Bib Rizieq Minta Kasusnya Selesai Secara Kekeluargaan

NU Online - Petinggi Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab telah berkali-kali dipolisikan berbagai pihak sejak Desember 2016 lalu. Terhadap berbagai laporan itu, Rizieq mengaku pihaknya menginginkan agar persoalan hukum yang sedang dituduhkan kepadanya diselesaikan secara kekeluargaan, termasuk kasus yang menjeratnya.

Dipolisikan Berkali-Kali, Bib Rizieq Minta Kasusnya Selesai Secara Kekeluargaan - NU Online
Dipolisikan Berkali-Kali, Bib Rizieq Minta Kasusnya Selesai Secara Kekeluargaan - NU Online


Dipolisikan Berkali-Kali, Bib Rizieq Minta Kasusnya Selesai Secara Kekeluargaan

"Janganlah kita coba saling lapor karena ini bisa mengantarkan pada konflik horizontal. Mestinya kepolisian menjembatani," ujar Rizieq, di Jakarta, Selasa (17/01/2017), sebagaimana dilansir dari situs Jitunews.com.

Tidak hanya itu, mantan Ketua Umum FPI ini juga mengharapkan agar pihak kepolisian dapat memediasi dirinya dengan berbagai pihak yang mempolisikan dirinya belakangan ini. "Bahkan kalau ada laporan-laporan, mestinya kepolisian mencoba untuk memediasi, apalagi kalau masalahnya sensitif," ungkapnya.

Sebagai contoh, menurut Rizieq, dalam kasus logo BI yang diklaimnya sebagai logo palu arit. Seharusnya, kata Rizieq, pihak kepolisian memediasi dia dan pihak terkait, yaitu BI dan Menkeu.

"Mestinya kalau saya protes keras, kalau itu dianggap hate speech, arahan Kapolri kepada kepolisian adalah menjembatani antara mereka yang bersuara keras dan yang diprotes. Harusnya polisi mediasi kami dengan Bank Indonesia dan pihak terkait. Tidak ada mediasi," tegas Rizieq.

Suami Syarifah itu menambahkan, pendekatan kekeluargaan juga perlu dilakukan dalam kasus komentar yang disampaikannya terkait pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada peringatan HUT ke-44 PDI-P yang dianggapnya mengandung unsur penistaan agama.

Ia mengaku telah menonton pidato Megawati hingga 10 kali sehingga meyakini bahwa pidato tersebut mengandung unsur penistaan agama dan bangsa. "Alangkah baiknya kalau itu didialogkan secara kekeluargaan," ungkapnya.

Rizieq bersedia meminta maaf jika memang salah paham terhadap pidato Megawati tersebut. Namun, Megawati, menurut dia, juga harus mengklarifikasi isi pidatonya jika memang salah ucap. Jalur kekeluargaan dianggapnya diperlukan tak hanya bagi kasus hukum ini, tetapi bagi kasus-kasus hukum lainnya.

Dengan demikian, tak setiap orang dengan mudahnya melaporkan satu sama lain. "Kami menahan diri (untuk melapor) supaya polisi bisa memediasi. Bukan hanya urusan kepada Bu Mega, melainkan juga dengan segala kelompok," kata Rizieq.

Sebagaimana diketahui, Rizieq sebelumnya dilaporkan oleh berbagai pihak terkait sejumlah kasus, yakni dugaan penistaan agama, terkait logo Bank Indonesia di uang kertas, dugaan penistaan terhadap Pancasila, dan terkait pernyataan soal "sampurasun". [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/dipolisikan-berkali-kali-bib-rizieq-minta-kasusnya-selesai-secara-kekeluargaan.html

Kamis, 14 Mei 2015

Pakar: NU Jadi Kekuatan Diplomasi Indonesia

Jakarta, NU Online. Peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam geopolitik global dinilai sangat penting dan dibutuhkan untuk memediasi konflik di sejumlah negara, maupun untuk memperkuat hubungan bilateral dan multilateral Indonesia di tingkat Internasional. Karenanya, dibutuhkan lebih banyak diplomat dari kader NU.

Hal itu diungkapkan pakar hubungan internasional Universitas Indonesia (UI) Edy Prasetyono dan pakar kajian Eropa UI Mahmoud Syaltout dalam diskusi Pramuktamar NU di Jakarta, Jumat (8/5/2015).

Pakar: NU Jadi Kekuatan Diplomasi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakar: NU Jadi Kekuatan Diplomasi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Pakar: NU Jadi Kekuatan Diplomasi Indonesia

Sekarang terjadi perubahan tren global dan regional. Rivalitas hegemoni atau kepemimpinan global sedang terjadi antara Amerika dengan Tiongkok. Eropa dan Rusia sedang jenuh. Indonesia, dengan jalur sutra yang diapit oleh berbagai negara satelit dari Amerika dan Tiongkok, mau tidak-mau harus memperkuat diri, papar Edy.

NU Online

Sementara geopolitik di Asia Timur dan Asia Tenggara, dalam konteks ekonomi, budaya maupun pertahanan dan keamanan, menurut Edy masih rentan konflik dan menjadi rebutan negara besar ekstra kawasan.

NU Online

Dalam hal ini, Islam Nusantara, karakter ideologi keagamaan NU ini sangat dibutuhkan dalam memperkuat hubungan internasional Indonesia. Karenanya NU harus mempertahankan sikap moderat, terbuka, guyub, bersatu dan mampu mengakomodasi berbagai tradisi lokal sebagai jalan diplomasi. Kalau Islam Nusantara ini bersikap ekstrem, menutup salah satu pelabuhan yang masuk jalur sutra misalnya, bisa memicu perang dunia, ujarnya.

Pentingnya peran NU dalam diplomasi Indonesia menurut Edy bukanlah bualan. Karena dalam sejumlah riset dan forum internasional, Islam Nusantara yang diusung NU ini relatif lebih diterima dan diakui moderasinya oleh negara-negara tetangga di Asia maupun oleh negara-negara di Eropa, Afrika dan Amerika.

Mitra negara kita ini, khususnya tetangga-tetangga terdekat, banyak negara yang mayoritas nonmuslim. Kalau tipikal masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini didominasi kelompok radikal, eksklusif dan intoleran, kita bisa diperangi, tandasnya seraya mengungkap sejumlah data yang menunjukkan kehadiran angkatan militer di sejumlah pulau dan laut terdekat dengan Indonesia.

Hal itu diamini Mahmud Syaltout, yang konsetrasi dalam bidang kajian Eropa di UI. Syaltout mengungkap sejumlah fakta kerja sama Indonesia dengan sejumlah negara yang berhasil setelah melibatkan rekomendasi NU

Pertamina ketika melobi Al-Geria untuk membuka investasi minyak, sampai harus mengklaim diri NU. We are Nahdliyin. Karena memang karakter masyarakat dan pemerintahan di sana dekat dengan NU. Akhirnya Pertamina dapat dua sumur minyak di sana. Begitu juga kerja sama dengan Libya, kita meminta rekomendasi Kiai Said (Ketua Umum PBNU), baru berjalan sukses, paparnya.

Fenomena serupa juga terjadi saat pemerintah Indonesia hendak menjalin kerja sama dengan Negara-negara Eropa, Amerika dan lainnya. Mereka melihat mayoritas penduduk Indonesia ini muslim dan secara faktual mampu menerapkan demokrasi secara damai. Tidak seperti di Negara-negara muslim lain, seperti di Timur Tengah, yang hancur lebur oleh konflik internal. Kebhinekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai adat, suku, bangsa dan agama, yang secara karakter berbeda namun bisa bersatu berkat toleransi yang dibangun kiai-kiai NU, menjadi nilai tersendiri di mata negara lain.

Karena itu, NU harus banyak kadernya ke berbagai negara mitra. Jalinlah kerja sama dengan negara-negara di Eropa, Amerika, China, Jepang, Perancis, hingga Singapura dan Malaysia. Bangun kerja sama beasiswa khusus untuk kader-kader muda NU misalnya. Ini penting, karena Indonesia butuh banyak diplomat berkarakter NU, imbuhnya. (Malik/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59393/pakar-nu-jadi-kekuatan-diplomasi-indonesia

Rabu, 01 Oktober 2014

Mendagri Minta Maaf Terkait Kemacetan di Brebes

Jakarta, NU Online. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, atas nama pemerintah, dirinya meminta maaf terkait layanan mudik pada 2016 ini, terutama terjadinya musibah kemacetan panjang di Brebes yang merenggut korban jiwa.

"Terjadinya musibah sebagian warga masyarakat pada saat kemacetan di Pantura daerah Kabupaten Brebes, Saya Mendagri atas nama pemerintah juga menyampaikan permohonan maaf," katanya seperti diinformasikan oleh Puspen Kemendagri yang diunggah dalam laman kementerian tersebut, Sabtu.

Mendagri Minta Maaf Terkait Kemacetan di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendagri Minta Maaf Terkait Kemacetan di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)


Mendagri Minta Maaf Terkait Kemacetan di Brebes

Seperti diberitakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Brebes telah merilis 17 orang yang meninggal dunia saat mudik lebaran 2016 mulai dari 29 Juni - 5 Juli 2016.

Penyebab meninggalnya dalam musibah mudik tersebut beragam, diantaranya selain karena kecelakaan lalu lintas, juga karena terlalu banyak menghirup apnoe causa CO2 toksic dari pendingin udara kendaraan akibat kemacetan yang panjang dan kelelahan.

NU Online

Ia mengatakan, selama ini pemerintah telah berupaya maksimal untuk memberikan pelayanan ke masyarakat saat mudik. Mulai dari mempercepat proses pembayaran jalan tol hingga perbaikan jalan.

Untuk itu, menurut dia, kejadian tersebut akan menjadi evaluasi pemerintah, khususnya Kementerian Dalam Negeri. "Adanya musibah, kekurangnyamanan dalam perjalanan menjadi evaluasi kami, pemerintah khususnya Kemendagri, sekali lagi sebagai Mendagri saya mohon maaf," kata Tjahjo.

NU Online

Tjahjo menjelaskan, Kemendagri sebelumnnya juga telah mengirimkan radiogram ke sejumlah kepala daerah wilayah Pantura, dimana menjadi perlintasan arus mudik dan balik lebaran.

Para kepala daerah tersebut antara lain Bupati Pemalang, Bupati Tegal, Wali Kota Tegal, Bupati Brebes, dan Bupati Cirebon. Dan khususnya adalah di Kabupaten Brebes.

Dalam radiogram tersebut, Mendagri meminta perbantuan siaga 24 jam untuk Satpol PP, aparat kecamatan, aparat desa dan dinas terkait di sepanjang Jalan Pantura dan puskesmas.

Mereka harus siap membantu kelancaran masyarakat arus balik ke arah Barat dan Timur melalui tol dan Pantura. Mendagri menekankan kepala daerah segera berkoordinasi untuk melakukan kesiapan tersebut. (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69635/mendagri-minta-maaf-terkait-kemacetan-di-brebes-

NU Online

Senin, 06 Januari 2014

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

NU Online - Seorang terdakwa perusakan menangis tersedu saat hakim memintanya bernyanyi satu lagu berjudul Ibu, ciptaan idolanya, Iwan Fals. “Atas perbuatan tersebut menuntut terdakwa dengan hukuman dua bulan kurungan.” Selasa, 30 Agustus 2016.

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - NU Online
Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - NU Online


Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

Pagi sekitar pukul 10.00 WITA, ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu diisi agenda persidangan biasa. Kali ini, di depan persidangan duduk seorang terdakwa yang dituntut jaksa hukuman dua bulan bui, atas perbuatannya dalam perkara perusakan barang. Ia dianggap melanggar pasal 406 Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

Perkara ini agak istimewa -setidaknya itu bisa terukur dari setiap kali persidangan cukup menyedot perhatian khalayak- lantaran menyeret seorang terdakwa yang nekat melakukan perusakan terhadap rumah ibunya. Ya, ada seorang anak tega merusak sebuah rumah milik ibu kandungnya. Kejadian itu terjadi pada Mei lalu.

“Usia terdakwa 42 tahun,” kata Djoe Hadisasmito Ketua Pengadilan Negeri Dompu, mengulang cerita soal persidangan yang ia pimpin.

Akar permasalahan berawal dari nafsu sang anak yang kini berstatus terdakwa, ingin meminta bagian warisan dari ibunya. Padahal sang ibunda masih hidup dan sehat.

Sang anak yang mungkin sudah digelapkan nafsu, mulanya hanya mempersoalkan dan meminta sertifikat rumah keluarga. Namun ibunda bertahan tak memberikan. Mendapati keinginannya tak terpenuhi, terdakwa lantas berang. Ia lantas memaki ibunya berulang-ulang nyaris setiap ada kesempatan.

“Malah dalam pemeriksaan saksi korban atau ibunda kandungnya mengaku, pernah diancam dan mau dipukul oleh terdakwa,” ujar Djoe sang hakim ketua.

Atas perlakuan anaknya itu, luluh juga sayang ibunda. Merasa diri terancam, si ibu melaporkan kelakuan anak kesayangannya itu ke kepolisian.

Namun si sayang bukannya sadar, amarah terdakwa makin menjadi. Mei lalu, menggunakan mobil Daihatsu Feroza miliknya, terdakwa kemudian pergi ke rumah sang ibu dan mulai merusak rumah keluarga yang ditinggali ibunya. Berkalang kalap terdakwa menabrakkan mobil yang ia kendarai hingga merusak rumah, pot, dan semua isi halaman secara membabi buta.

Dan akhirnya tibalah kisah terdakwa ke persidangan tuntutan di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu. Sesaat setelah kalimat tuntutan jaksa, Djoe yang duduk di kursi hakim ketua spontan bertanya,

“Kamu itu penggemar Iwan Fals ya?.”

“Benar pak Hakim, saya penggemar Iwan Fals,” kata terdakwa sembari terus menundukkan kepalanya. Djoe bukan menebak-nebak. Ia bisa tahu terdakwa penggemar Iwan Fals lantaran melihat foto barang bukti berupa mobil yang dipakai merusak rumah itu ditempeli banyak stiker Iwan Fals dan Orang Indonesia.

“Kalau begitu, tolong nyanyikan saya satu lagu dari Iwan Fals yang berjudul Ibu, kamu tahu lagunya?” kembali Djoe bertanya. Ia mengaku perintahnya kepada terdakwa itu spontan.

Terdakwa hanya mengangguk. Ruang sidang tercekat dengan pemintaan sang hakim ketua. Sungguh tak biasa ada dendang lagu di tengah sidang yang biasanya super khidmat.

Tanpa banyak ambil waktu, terdakwa lantas bernyanyi. Meski dengan nada yang terbata lantaran malu di depan sidang, lagu ibu terdengar cukup merdu. Namun tak lama, lantunan lagu berhenti dan rusak seketika. Suara terdakwa seperti tercekik saat melafalkan bait, “ibuku sayang masih terus berjalan.”

Setelah bait tersebut ia tak kuasa melanjutkan nyanyian. Terdakwa menangis sejadinya. Emosinya meledak. Begitu juga dengan seisi pengunjung di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu.

“Saya juga terharu sebenarnya,” kata hakim Djoe. Namun ia sadar harus bisa mengendalikan emosi di saat persidangan.

Bagi Hakim Djoe, persidangan bukan cuma ajang penghukuman. Persidangan jauh mulia dari pada itu. Persidangan harusnya menjadi momen pembelajaran bagi sesiapa, bukan hanya terdakwa. Belajar dari kesalahan, belajar cinta kasih dan belajar menjalani hidup yang bertanggung jawab.

“Saya yakin terdakwa menyesal dengan segala perbuatannya,” kata Djoe. Sebuah lagu membuat haru seluruh isi Pengadilan Negeri Dompu. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/gara-gara-lagu-iwan-fals-seisi-ruangan-pengadilan-di-dompu-terharu.html

Kamis, 31 Oktober 2013

Imam Menghadap Makmum Setelah Shalat Bukan Bidah

NU Online - Bacaan setelah salam usai shalat banyak dilakukan oleh imam ketika mereka memimpin shalat jama'ah. Posisi duduk setelah shalat, ada yang kemudian menghadap jamaah (ke Timur) ada yang menghadap utara. Semuanya mengikuti cara duduk rasulullah setelah shalat fardlu.

Cara duduk Rasulullah ketika berdzikir usai shalat dipraktikkan oleh imam shalat jamaah. Baik ke Timur maupun ke Utara. Tidak bisa disebut bid'ah atau sesat. Semua punya dasar dan pijakan dalil yang bisa dipertanggungjawabkan.

Imam Menghadap Makmum Setelah Shalat Bukan Bidah - NU Online
Imam Menghadap Makmum Setelah Shalat Bukan Bidah - NU Online


Imam Menghadap Makmum Setelah Shalat Bukan Bidah

Hadis I Menghadap ke Timur (berhadapan dengan jamaah)

Sebagian imam dari umat Islam menghadap ke arah jamaah setelah salat (ke timur) dengan dalil hadist ini:

NU Online

ﻋﻦ ﺳﻤﺮﺓ ﺑﻦ ﺟﻨﺪﺏ، ﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫا ﺻﻠﻰ ﺻﻼﺓ ﺃﻗﺒﻞ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﻮﺟﻬﻪ . رواه البخاري

NU Online

Artinya:

Samurah bin Jundab berkata: "Jika Nabi selesai salat maka menghadap ke arah kami dengan wajah beliau" (HR al-Bukhari)

Hadis II Menghadap ke Utara

Para kiai dan ustadz kita biasanya menghadap ke utara. Hal ini bersumber dari hadis:

ﻋﻦ اﻟﺒﺮاء، ﻗﺎﻝ: ﻛﻨﺎ ﺇﺫا ﺻﻠﻴﻨﺎ ﺧﻠﻒ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺃﺣﺒﺒﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﻜﻮﻥ ﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻪ، ﻳﻘﺒﻞ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﻮﺟﻬﻪ . رواه مسلم

Artinya:

Barra' bin Azib berkata: "Jika kami makmum di belakang Nabi maka kami senang berada di sebelah kanan Nabi. Beliau menghadap kepada kami dengan wajah beliau" (HR Muslim)

Saya temukan pendapat ahli hadist bermadzhab Syafiiyah, al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai jami' (memadukan) antara 2 hadis di atas:

ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻹﻣﺎﻡ ﻋﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻬﻢ ﺃﻭ ﻳﻌﻈﻬﻢ ﻓﻴﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﺒﻞ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﻮﺟﻬﻪ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ اﻟﺬﻛﺮ اﻟﻤﺄﺛﻮﺭ ﻓﻬﻞ ﻳﻘﺒﻞ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﺃﻭ ﻳﻨﻔﺘﻞ ﻓﻴﺠﻌﻞ ﻳﻤﻴﻨﻪ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ ﻭﻳﺴﺎﺭﻩ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﻳﺪﻋﻮ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﺟﺰﻡ ﺑﻪ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ

Jika imam punya kebiasaan mengajar atau memberi ceramah pada jemaah maka dianjurkan menghadap ke arah mereka semua dengan wajahnya. Jika sekedar melakukan dzikir yang berdasarkan riwayat saja maka apakah (1) menghadap ke arah makmum semua, atau (2) bergeser dengan menjadikan arah kanan imam menghadap ke makmum dan arah kirinya menghadap kiblat dan berdoa? Mayoritas ulama Syafiiyah memilih pendapat no 2 atau menghadap utara" (Fath al-Bari, 2/336)

Mana pendapat yang lebih kuat? Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali mengutip dari sebagian ulama:

تدبرت الاحاديث التي رويت في استقبال النبي صلى الله عليه وسلم الناس بوجهه فوجدت انحرافه عن يمينه اثبت

Saya angan-angan tentang hadis yang diriwayatkan menghadapnya Nabi dengan wajah beliau ke arah jemaah. Maka saya temukan bahwa Nabi menghadap ke arah kanan adalah hadis yang lebih kuat (Fath al-Bari 6/120) [NU Online]

Ma'ruf Khozin, pengasuh Kajian Aswaja Majalah AULA

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/imam-menghadap-makmum-setelah-shalat-bukan-bidah.html

Selasa, 27 November 2012

Habib Ali bin Abdullah Alhamid, Ketua Ansor Jember yang Dibunuh PKI

NU Online - Habib Ali bin Abdullah Alhamid terhitung masih keponakan Habib Sholeh Tanggul, Jember. Beliau meninggal secara syahid di usia muda, sekitar 32 tahun, setelah diculik dan dieksekusi mati oleh kawanan PKI di kawasan Hutan Kumitir, sekitar tahun 1965. Hutan itu jadi saksi bisu kekejaman PKI kepada para ulama.

Habib Ali bin Abdullah Alhamid, Ketua Ansor Jember yang Dibunuh PKI - NU Online
Habib Ali bin Abdullah Alhamid, Ketua Ansor Jember yang Dibunuh PKI - NU Online


Habib Ali bin Abdullah Alhamid, Ketua Ansor Jember yang Dibunuh PKI

Setelah ditembak mati, jasad Habib Ali Alhamid pertama kali ditemukan oleh perempuan paruh baya yang sedang mencari kayu bakar. "Ono wong mati Arab, ono wong mati Arab, ono wong mati Arab," teriak perempuan itu sambil berlari memberitahu suami dan warga lain di sekitar hutan. Saksi hidup anak yang menemukan jasad habib masih ada hingga tulisan ini dibuat.

Habib Ali bin Abdullah Alhamid pada waktu itu adalah Ketua GP Ansor Jember. Tragedi pembunuhan bermula dari kunjungan seorang tamu yang memberitahukan kalau jamaah dan santri beliau, saat itu, tengah ditangkap dan diamankan di kantor kepolisian setempat.

Mendengar kabar mengejutkan tersebut, Habib Ali langsung berkemas menuju kantor kepolisian untuk memastikan kebenaran informasinya, karena memang saat itu situasi negara sedang tidak menentu. Tidak aman dan tidak kondusif.

Di tengah perjalanan, ternyata Habib Ali diculik oleh gerombolan PKI, lalu diseret ke Gunung Kumitir atau Gunung Mrawan, yang terletak di perbatasan antara Jember dan Banyuwangi, Jatim. Tamu tersebut ternyata adalah suruhan PKI.

Di lokasi yang telah ditentukan itu, Habib Ali hendak dieksekusi tembak oleh komplotan kejam PKI. Namun, peluru yang dihujamkan berkali-kali oleh PKI tidak mempan menembus dada sang habib. Habib Ali ternyata memiliki karomah kebal senjata. Tidak mempan senjata tembak.

Pusing, tim eksekutor mengancam habib, yang isinya "jika pelurunya tidak tembus, maka, istri, anak dan semua keluarganya akan dibantai habis oleh PKI". Dengan pelbagai pertimbangan, Habib Ali akhirnya hanya tersenyum dan menyerah, bersedia ikhlash dieksekusi mati.

Namun, sebelum ditembak, Habib Ali bin Abdullah Alhamid berpesan agar setelah wafat nanti, jasadnya tidak dicampur dengan yang lain, sebagaimana kebiasaan PKI yang menumpuk mayat korbannya saat itu pasca eksekusi. Habib minta jasadnya disendirikan.

Sebelum ditembak, Habib Ali mohon ijin untuk melaksanakan ibadah shalat sunnah dan berdoa. Usai shalat, habib memasrahkan dirinya ditembak demi menyelamatkan keluarga, para pengikut serta santri dan jama'ahnya. Atas kehendak Allah, peluru akhirnya bisa tembus dan Habib Ali Alhamid wafat dalam keadaan syahid di tangan PKI.

Riwayat pembunuhan ini menjadi gamblang dan terang sejak ada seorang laki-laki tua yang ziarah ke makam Habib Ali lalu menangis sejadi-jadinya di sana. Sekitar tahun 2000-an. Ia datang ke makam untuk meminta ampunan dan mohon maaf kepada habib beserta seluruh keluarganya karena telah menembak mati sang habib.

Ia datang ziarah setelah merasakan kalau hidupnya tidak tenang dan dirundung penyesalan tanpa akhir. Kepada keluarga, ia menceritakan kronologi tragedi tersebut dari awal hingga akhir. Keterangan yang didapatkan NU Online menyebutkan kalau laki-laki itu adalah seorang muslim yang terpaksa menuruti perintah PKI menembak Habib Ali.

Saat ekseskusi, katanya, telinga kiri laki-laki itu sudah dicung senapan oleh anggota PKI. Jika dia tidak menembak habib, maka peluru di senapan yang dekat telinganya tersebut akan segera menyasar kepalanya sendiri. Karena takut atas ancaman tersebut, terpaksa dia mengeksekusi tembak Habib Ali.

Foto dibawah ini adalah makam Habib Ali bin Abdullah Alhamid yang didapatkan NU Online dari Group Thariqh Sarkubiyah. Peta makam, silakan klik SINI. Alfatihah untuk beliau. [NU Online]

Ket:

Tulisan ini dirangkum dari laporan ziarah Sarkub Thariqah Sarkubiyah, pada Sabtu, (13/11/2016).

Makam Habib Ali bin Abdullah Alhamid Jember Mbah Sarkub Ziarah ke Makam Habib Ali bin Abdullah Alhamid

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/habib-ali-bin-abdullah-alhamid-ketua-ansor-jember-yang-dibunuh-pki.html

Kamis, 17 November 2011

Habib Jadzab (Antik) Waliyullah Kudus Insyaallah Hadir di Haul Gus Dur ke 7

NU Online - Sepanjang hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang malnjutkan tradisi para ulama pendahulunya menghadirkan Islam yang ramah dan damai, membela kepentingan kaum yang lemah, dan dapat beradaptasi dan menerima budaya lokal.

Habib Jadzab (Antik) Waliyullah Kudus Insyaallah Hadir di Haul Gus Dur ke 7 - NU Online
Habib Jadzab (Antik) Waliyullah Kudus Insyaallah Hadir di Haul Gus Dur ke 7 - NU Online


Habib Jadzab (Antik) Waliyullah Kudus Insyaallah Hadir di Haul Gus Dur ke 7

Nilai keislaman yang Gus Dur perjuangkan berusaha untuk menyapa dan merangkul semua kelompok. Beliau meyakinkan bahwa keislaman dapat bersanding dengan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi, menjunjung tinggi penghormatan hak asasi, menghargai perbedaan, serta mengutamakan persatuan dan persaudaraan. Nilai dan prinsip itu pula yang terus diperjuangkan saat beliau menjadi Presiden RI keempat.

Menghadapi tantangan meningkatnya kebencian antar sesama muslim maupun terhadap kelompok lain akhir-akhir ini, nilai keislaman yang diperjuangkan KH Abdurrahman semakin relevan untuk digemakan kembali. Karena itu peringatan ke-7 tahun wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember ini mengambil tema ‘Mengaji Gus Dur; Menebar Damai Menuai Rahmat’.

"Situasi ini dapat menganggu citra Islam, terutama bagi Indonesia yang menjadi model keislaman yang damai dan ramah di mata dunia. Apalagi masyarakat di negara-negara Barat saat ini mengalami Islamphobia, ketakutan daan kecurigaan terhadap Islam yang meningkat akibat maraknya kekerasan dan terorisme," tandas Alissa Wahid, ketua Panitia Peringatan yang juga puteri sulung Gus Dur, (Selasa, 20/12).

Menurut Alissa, ketegangan yang tak jarang berakhir dengan konflik kekerasan biasanya dipicu sikap merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan yang lain. Sikap ini makin mengeras dan berdampak negatif jika dipengaruhi faktor politik, ekonomi, dan sosial. Situasi ini sangat mudah dijumpai di media-media sosial akhir-akhir ini. Padahal nilai-nilai keislaman jelas sekali mewajibkan pada perdamaian dan tak mudah berburuk sangka.

Pada saat bersamaan, orang juga makin merindukan Gus Dur di saat tak sedikit para pejabat publik bertindak melawan rakyat atas nama pembangunan. "Di sejumlah daerah kita masih menyaksikan rakyat kecil ditinggalkan bahkan dirampas haknya dan kelompok minoritas ditekan. Di saat itu orang-orang rindu Gus Dur," tandas Alissa.

Peringatan haul Gus Dur ke-7 tahun ini diisi kegiatan tahlil, maulid Nabi Besar Muhammad SAW, taushiah, doa bersama, deklarasi damai, dan pembacaan puisi. .

Sejumlah tokoh agama, tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan budayawan yang akan hadir, antara lain sahabat dan budayawan KH. Mustofa Bisri (Rembang), Habib Ja’far Alkaff (Kudus), Habib Umar Muthohar (Semarang), KH. Said Aqil Siradj (Ketum PBNU), Lukman Hakim Saifuddin (Menag), Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida (Budayawan). Acara ini akan dimeriahkan pula oleh penampilan band musik tradisi Kunokini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini akan diikuti ribuan orang yang datang dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka terdiri atas anggota majelis taklim, komunitas, hingga kalangan umum. Di pagi hari, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, ada kegiatan Khotmil Qur’an (membaca tuntas 30 juz al-Qur’an). [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/habib-jadzab-waliyullah-kudus-hadir-di-haul-gus-dur-ke-7.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs NU Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik NU Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan NU Online dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock