Tampilkan postingan dengan label Soheh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soheh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi

Surabaya, NU Online. Nahdlatul Ulama patut berbangga lantaran dari hasil pengumuman Ujian Nasional (UN) 2013 untuk tingkat Madrasah Aliyah, ternyata didominasi madrasah dari kalangan lembaga pendidikan Maarif.

Perasaan bangga itu disampaikan oleh Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur, Akhmad Muzakki, PhD.

Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)


Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi

Tahun ini kita layak bersyukur lantaran sejumlah siswa berprestasi adalah dari lembaga pendidikan di bawah LP Maarif, katanya.

Untuk tingkat Madrasah Aliyah Program IPA, ada nama Alif Kholifah dari MA Mathaliul Anwar Lamongan dengan nilai UN 57.00. Demikian juga Teguh Ari Wibowo dari MA Abu Dzarrin Bojonegoro dengan total nilai 56.85.

NU Online

Untuk program keagamaan tercatat Novi Octavia dari MA Tarbiyatut Thalabah Lamongan (55.35), kemudian Himatul Mukaromah dari MA MA Tarbiyatut Thalabah Lamongan (55.30).

NU Online

Sedangkan dari program SMK terdapat nama Ardi Pranata dari SMK NU I Karanggeneng Lamongan yang mengumpulkan nilai UN 38.20

Melihat hasil sangat istimewa ini, Muzakki menandaskan PW LP Maarif NU Jatim patut berbangga.

Hasil ini merupakan proses kerja keras para pendidik dalam mengelola kualitas pendidikan sesuai standar nasional pendidikan, tandas dosen pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini kepada NU Online (27/5).

Hasil ini menggambarkan bahwa tingkat pendidikan warga NU menunjukkan kualitas yang lebih baik, katanya. Apalagi fakta telah menunjukkan dimana jumlah madrasah dan sekolah di Lembaga Pendidikan Maarif NU Jatim mendominasi peringkat tertinggi, tidak terpaut jauh dengan sekolah negeri maupun madrasah negeri, lanjutnya.

Dalam pandangannya, prestasi yang diperoleh madrasah maupun sekolah di atas membuktikan bahwa lembaga pendidikan di bawah LP Maarif telah mampu menunjukkan kualitas yang berdaya saing tinggi pada satu sisi dan disertifikasi kualitas pada sisi yang lain.

Ada sejumlah pesan penting dari torehan ini yakni pertama bahwa tidak hanya di program keagamaan, Maarif berprestasi melalui madrasah-madrasahnya, melainkan juga program umum, baik melalui wadah SMA maupun SMK.

Kedua, meskipun berstatus swasta, tapi sekolah maupun madrasah di lingkungan Maarif mampu menunjukkan hasil yang tidak kalah baik dibandingkan sekolah negeri walaupun fasilitas pendukung harus diupayakan sendiri tanpa menggantungkan dari anggaran pemerintah atau negara, kata Muzakki.

Salah seorang komisioner Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur ini berharap agar prestasi yang diraih tersebut dapat melecut semua madrasah serta sekolah di lingkungan Maarif NU.

Kita berharap raihan ini kian membuat saling gayung bersambut dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan NU, pungkasnya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44736/maacircarif-nu-bersyukur-sekolahnya-dominasi-un-tertinggi

NU Online

Jumat, 19 Desember 2014

Worlds sufis will hold meeting in Pekalongan

Jakarta, NU Online. As a preparatory step ahead of an international sufi meeting (Multaqa Sufi Alami), the leaders of sufi orders (tariqa) from various countries are scheduled to gather in Pekalongan, Central Java, on January 14, 2013. They will immediately formulate concepts to establish a worldwide tariqa organization.

"Those who are from( such countries as) Egypt, Syria, Sudan, and UEA, will be in Pekalongan," Secretary of the organizing committee Ali Abdillah told NU Online by phone on Friday (4/1).

Worlds sufis will hold meeting in Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Worlds sufis will hold meeting in Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)


Worlds sufis will hold meeting in Pekalongan

As reported, one of the main agenda of the Multaqa Sufi Alami initiated by the Ahlit Thariqah al-Mutabaroh an-Nahdliyah (Jatman) is establishing a worldwide tariqa organization. To finalize the concept, founding boards (majlis tasis) from various countries will hold a meeting in Pekalongan.

NU Online

According to the Mudir Aam Idarah Aliyah (supreme leader) of Jatman, KH Abdul Muthi, sufi order organization at the international level is needed to unify any sufi order from different parts of the world having not been well-organized. The purposeful establishment of the organization is aimed at upholding the importance of monotheism in addition to helping create world peace.

The much-awaited forum will reportedly be held on January 27, 2013 at the Jakartas Borobudur Hotel. This momentous event will be attended by some 400 Sufis around the world.

NU Online

Editor : Sudarto Murtaufiq

Writer : Mahbib Khoiron

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41599/world039s-sufis-will-hold-meeting-in-pekalongan

NU Online

Senin, 06 Januari 2014

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

NU Online - Seorang terdakwa perusakan menangis tersedu saat hakim memintanya bernyanyi satu lagu berjudul Ibu, ciptaan idolanya, Iwan Fals. “Atas perbuatan tersebut menuntut terdakwa dengan hukuman dua bulan kurungan.” Selasa, 30 Agustus 2016.

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - NU Online
Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - NU Online


Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

Pagi sekitar pukul 10.00 WITA, ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu diisi agenda persidangan biasa. Kali ini, di depan persidangan duduk seorang terdakwa yang dituntut jaksa hukuman dua bulan bui, atas perbuatannya dalam perkara perusakan barang. Ia dianggap melanggar pasal 406 Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

Perkara ini agak istimewa -setidaknya itu bisa terukur dari setiap kali persidangan cukup menyedot perhatian khalayak- lantaran menyeret seorang terdakwa yang nekat melakukan perusakan terhadap rumah ibunya. Ya, ada seorang anak tega merusak sebuah rumah milik ibu kandungnya. Kejadian itu terjadi pada Mei lalu.

“Usia terdakwa 42 tahun,” kata Djoe Hadisasmito Ketua Pengadilan Negeri Dompu, mengulang cerita soal persidangan yang ia pimpin.

Akar permasalahan berawal dari nafsu sang anak yang kini berstatus terdakwa, ingin meminta bagian warisan dari ibunya. Padahal sang ibunda masih hidup dan sehat.

Sang anak yang mungkin sudah digelapkan nafsu, mulanya hanya mempersoalkan dan meminta sertifikat rumah keluarga. Namun ibunda bertahan tak memberikan. Mendapati keinginannya tak terpenuhi, terdakwa lantas berang. Ia lantas memaki ibunya berulang-ulang nyaris setiap ada kesempatan.

“Malah dalam pemeriksaan saksi korban atau ibunda kandungnya mengaku, pernah diancam dan mau dipukul oleh terdakwa,” ujar Djoe sang hakim ketua.

Atas perlakuan anaknya itu, luluh juga sayang ibunda. Merasa diri terancam, si ibu melaporkan kelakuan anak kesayangannya itu ke kepolisian.

Namun si sayang bukannya sadar, amarah terdakwa makin menjadi. Mei lalu, menggunakan mobil Daihatsu Feroza miliknya, terdakwa kemudian pergi ke rumah sang ibu dan mulai merusak rumah keluarga yang ditinggali ibunya. Berkalang kalap terdakwa menabrakkan mobil yang ia kendarai hingga merusak rumah, pot, dan semua isi halaman secara membabi buta.

Dan akhirnya tibalah kisah terdakwa ke persidangan tuntutan di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu. Sesaat setelah kalimat tuntutan jaksa, Djoe yang duduk di kursi hakim ketua spontan bertanya,

“Kamu itu penggemar Iwan Fals ya?.”

“Benar pak Hakim, saya penggemar Iwan Fals,” kata terdakwa sembari terus menundukkan kepalanya. Djoe bukan menebak-nebak. Ia bisa tahu terdakwa penggemar Iwan Fals lantaran melihat foto barang bukti berupa mobil yang dipakai merusak rumah itu ditempeli banyak stiker Iwan Fals dan Orang Indonesia.

“Kalau begitu, tolong nyanyikan saya satu lagu dari Iwan Fals yang berjudul Ibu, kamu tahu lagunya?” kembali Djoe bertanya. Ia mengaku perintahnya kepada terdakwa itu spontan.

Terdakwa hanya mengangguk. Ruang sidang tercekat dengan pemintaan sang hakim ketua. Sungguh tak biasa ada dendang lagu di tengah sidang yang biasanya super khidmat.

Tanpa banyak ambil waktu, terdakwa lantas bernyanyi. Meski dengan nada yang terbata lantaran malu di depan sidang, lagu ibu terdengar cukup merdu. Namun tak lama, lantunan lagu berhenti dan rusak seketika. Suara terdakwa seperti tercekik saat melafalkan bait, “ibuku sayang masih terus berjalan.”

Setelah bait tersebut ia tak kuasa melanjutkan nyanyian. Terdakwa menangis sejadinya. Emosinya meledak. Begitu juga dengan seisi pengunjung di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu.

“Saya juga terharu sebenarnya,” kata hakim Djoe. Namun ia sadar harus bisa mengendalikan emosi di saat persidangan.

Bagi Hakim Djoe, persidangan bukan cuma ajang penghukuman. Persidangan jauh mulia dari pada itu. Persidangan harusnya menjadi momen pembelajaran bagi sesiapa, bukan hanya terdakwa. Belajar dari kesalahan, belajar cinta kasih dan belajar menjalani hidup yang bertanggung jawab.

“Saya yakin terdakwa menyesal dengan segala perbuatannya,” kata Djoe. Sebuah lagu membuat haru seluruh isi Pengadilan Negeri Dompu. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/gara-gara-lagu-iwan-fals-seisi-ruangan-pengadilan-di-dompu-terharu.html

Rabu, 11 Juli 2012

Sikap GP Ansor terhadap Pemberlakukan Full Day School

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Bapak Muhadjir Effendy mewacanakan kepada publik bahwa Pemerintah akan memberlakukan kebijakan full day school untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah (SD, SLTP dan SLTA).

Dalam berbagai pemberitaan di media massa, terlihat Presiden Joko Widodo mendukung rencana kebijakan ini. Bahkan berdasarkan informasi yang kami terima, sedang disiapkan Peraturan Presiden sebagai payung hukum pemberlakuan full day school.

Sikap GP Ansor terhadap Pemberlakukan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikap GP Ansor terhadap Pemberlakukan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)


Sikap GP Ansor terhadap Pemberlakukan Full Day School

Sehubungan dengan rencana pemberlakukan full day school tersebut, demi kepentingan nasional dan demi kemaslahatan umum, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor melalui Bidang Pendidikan dan Tenaga Kerja yang ditandatangani Mohammad Amin (Ketua) dan Caswiyono Rusydie (Wakil Sekretaris Jenderal) menyatakan sikap terhadap renacana Pemerintah.

Berikut pernyataan yang dikeluarkan 31 Oktober di Jakarta tersebut:

NU Online

1. Gerakan Pemuda Ansor setuju bahwa orientasi pendidikan harus diarahkan tidak hanya pada aspek pembelajaran ilmu pengetahuan saja, tetapi juga pada pendidikan karakter siswa. Terutama pada karakter personal untuk mengedepankan etika dan etos kerja, karakter sosial untuk peduli pada sesama dan toleran, serta karakter nasionalisme, cinta tanah air dan bangsa Indonesia.

NU Online

2. GP Ansor berpendapat bahwa model pendidikan setengah hari yang selama ini berjalan di sekolah-sekolah formal tidak cukup efektif untuk mewujudkan orientasi pendidikan yang komprehensif sebagaimana point 1.

Dalam perspektif ini, model pendidikan full day school memang lebih baik dari model pendidikan setengah hari. Namun, full day school juga bukan model pendidikan terbaik. Bagi GP Ansor, model terbaik pendidikan di Indonesia adalah model boarding school.

Jamiyyah NU sudah mempraktikkan model pendidikan boarding school ini sejak ratusan tahun lalu melalui pondok pesantren. Kalau ingin mengetahui kualitas lulusan pondok pesantren, silakan dibandingkan tingkat penguasaan keilmuan, akhlak dan nasionalisme lulusan pondok pesantren yang telah menempuh pendidikan selama 12 tahun, dengan lulusan pendidikan lain dalam jangka waktu yang sama. Umumnya alumni pondok pesantren akan lebih unggul.

3. Oleh karena itu, GP Ansor mengusulkan agar model pendidikan yang diterapkan secara nasional adalah model pendidikan boarding school, bukan hanya full day school. Kalau Pemerintah menganggap masyarakat belum siap dengan pemberlakuan model pendidikan boarding school, GP Ansor mengusulkan agar konsep full day school yang ingin diterapkan dimaksudkan sebagai sarana antara untuk menuju pemberlakuan boarding school.

4. Di masyarakat sebenarnya juga secara tidak langsung sudah berjalan model pendidikan full day school, terutama di sebagian besar masyarakat pedesaan. Di mana, orang tua memilih untuk menyekolahkan anak-anaknya setelah pulang dari sekolah formal di pagi hari (07.00-13.00) untuk kembali sekolah di sekolah keagamaan (madrasah diniyyah) di sore hari (14.00-17.00). Dengan model pendidikan seperti ini, kekurangan pada pendidikan formal di sekolah pagi hari terjawab pada sekolah di madrasah diniyyah di sore hari. Bahkan, pada malam hari selepas maghrib, siswa-siwa model seperti ini masih mengaji di surau, di mushola atau di masjid untuk memperdalam ilmu agama.

5. Dalam konteks ini, eksistensi madrasah diniyyah sudah terbukti mampu menjawab kegalauan Pemerintah terkait dengan kekurangan model pendidikan formal setengah hari. Oleh karena itu, jika Pemerintah ingin membuat kebijakan pembenahan pendidikan formal, Gerakan Pemuda Ansor meminta agar tidak memberangus dan mengebiri eksistensi madrasah diniyyah. Perpaduan model pendidikan formal di pagi hari, dan pendidikan di madrasah diniyyah di sore hari sudah sejalan dengan maksud pemerintah menyelenggarakan full day school.

6. Dengan demikian, GP Ansor berharap model pendidikan full day school yang akan diterapkan oleh Pemerintah, memberi ruang pada pilihan masyarakat untuk tetap dapat bersekolah di madrasah diniyyah. Di mana, dengan bersekolah di madrasah diniyyah pada sore hari, seorang siswa dinilai sudah memenuhi kewajiban full day school.

7. GP Ansor melihat kebijakan full day school ini merupakan momentum untuk peningkatan kualitas pendidikan madrasah diniyyah yang selama ini berjalan secara mandiri, dan kurang mendapat sentuhan pemerintah. Baik dari aspek tenaga pendidik dan infrastruktur fisik penunjang pembelajaran. Pemerintah dapat menunjukkan keberpihakannya kepada madrasah diniyyah dengan cara mengintegrasikan pendidikan madrasah diniyyah pada konsep full day school.

8. Dalam konsep ini, GP Ansor mengusulkan agar di daerah-daerah penyelenggara madarasah diniyyah yang belum memiliki ruang belajar mengajar memadai diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas dan ruang belajar sekolah formal. Pada aspek tenaga pendidik, madrasah diniyyah yang belum memiliki guru yangcukup, dapat menggunakan guru-guru sekolah formal yang memenuhi syarat untuk menjadi pengajar di madarasah diniyyah, dan sebagainya.

9. Semoga Allah SWT senantiasa memberi hidayah kepada seluruh pemimpin Bangsa sehingga dijauhkan dari bertindak demi kepentingan golongan, serta dapat bertindak bijaksana demi kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72584/sikap-gp-ansor-terhadap-pemberlakukan-full-day-school

NU Online

Rabu, 16 Mei 2012

Meski Sudah Wafat, Nama Gus Dur Tetap Bertuah Sebagai Juru Dakwah

Gus Dur Sebagai Kata Kunci Oleh Rijal Mumazziq ZionisNU Online - Mas Abdu L Wahab, ketika memulai dakwahnya di pelosok Papua, justru diberi fasilitas sebuah rumah yang biasa digunakan sebagai basecamp. Pemiliknya adalah Bapak Antonius Rahail, seorang Katolik taat.

Mengapa Pak Antonius menyediakan rumahnya sebagai fasilitas penunjang pendidikan dan dakwah muslim? Jawabannya: karena Gus Dur. Ya, nama terakhir ini sangat dihormati oleh Pak Antonius karena baginya Gus Dur telah mengembalikan martabat rakyat Papua dengan mengembalikan nama "Irian" menjadi "Papua" kembali.

Alasan alternatif, selama hidupnya Gus Dur banyak melindungi kebebasan beragama pemeluk agama lain. Jadi wajar apabila ada orang Katolik yang melakukan balas budi dengan cara meyediakan rumahnya sebagai fasilitas dakwah nahdliyyin, dengan tujuan membalas budi kebaikan Gus Dur.

Meski Sudah Wafat, Nama Gus Dur Tetap Bertuah Sebagai Juru Dakwah - NU Online
Meski Sudah Wafat, Nama Gus Dur Tetap Bertuah Sebagai Juru Dakwah - NU Online


Meski Sudah Wafat, Nama Gus Dur Tetap Bertuah Sebagai Juru Dakwah

Di Lowoksuruh, Wendit, Malang, ketika KH. Agus Sunyoto mendirikan sebuah rumah dan pesantren Tarbiyatul Arifin, beliau melihat apabila desanya merupakan salah satu desa yang mayoritas dihuni orang non-mulim. Bahkan ada dua gereja di situ. Satu gereja Katolik, satu lagi gereja Kristen Shallom.

Acara misi dua gereja ini berjalan dengan menyasar warga-warga miskin. Bahkan untuk mengakrabkan anak-anak dengan gereja, pengelolanya menyediakan semacam taman bermain di teras gereja. Tak heran jika Pak Agus Sunyoto awalnya kaget melihat bocah-bocah berjilbab keluar dari komplek gereja dengan riang gembira. Rupanya mereka habis bermain-main di terasnya.

NU Online

Melihat hal ini, sebagai upaya melindungi aqidah anak-anak, Pak Agus pun memutuskan mendirikan Raudlatul Athfal (TK). Sebagai pendatang baru yang tinggal di sebuah desa dengan kompleksitas agama penduduknya, membuat Pak Agus mempertimbangkan aspek manusiawi dan mengutamakan kecerdikan dalam dakwahnya.

NU Online

Sebelum pesantren binaannya berdiri disertai perintisan TK, penulis buku Atlas Walisongo ini berusaha menjinakkan kawasannya terlebih dulu. Saat itu, mushalla di sekitar lingkungannya belum ada. Agar pendirian mushalla, pesantren serta TK tidak menimbulkan gesekan antar warga, maka Kiai Agus melakukan pendekatan terhadap pendeta dan beberapa tokoh Katolik setempat. Di sisi lain, beliau juga mengurus surat izin lembaganya ke Kemenag Malang.

Berhadapan dengan para tokoh masyarakat dan pemimpin gereja, dengan cerdik Pak Agus menggunakan keyword "Gus Dur" sebagai pembuka. Beliau memperkenalkan diri sebagai pengurus Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi) NU, lalu mendiskusikan kerukunan umat beragama dan bingkai keislaman dan kebangsaan, dan tak lupa menyebut diri sebagai santri ideologis Gus Dur.

Tak lupa, karena mereka juga menyukai Bung Karno, Pak Agus membuka ruang diskusi nasionalisme melalui jalan pikiran Bung Karno yang gandrung persatuan itu. Ampuh, melihat karakter Pak Agus yang "en-U" banget dan melihatnya sebagai bagian dari murid Gus Dur sekaligus pengagum Bung Karno, beberapa tokoh masyarakat ini pun ikut tanda tangan atas nama warga setempat dengan menyetujui pendirian lembaga pendidikan yang akan didirikan Pak Agus.

Setelah lembaga pendidikan Islam Tarbiyatul Arifin berdiri, Pak Agus langsung membuka pengajian untuk warga sekitar. Agar anak-anak kuat akidahnya, beliau juga mendirikan unit Raudlatul Athfal. Lucunya, ada beberapa anak-anak non-muslim bersekolah di sini dan mereka sampai hafal beberapa surat pendek. Bahkan seorang anak Kristen sampai hafal 22 surat pendek. Dia sekarang bersekolah di SDN, sedangkan adiknya masih duduk di tingkat dasar RA Tarbiyatul Arifin. Di RA ini anak-anak juga diajari kesenian tari Remo sebagai wujud pelestarian budaya.

Adapun para pemuda diajari berkesenian melalui grup shalawat Al-Banjari. Di pondok ini juga terdapat langgar wakaf Sunan Kalijaga. Demi toleransi terhadap warga sekitar, Pak Agus sengaja tidak menggunakan speaker saat mengumandangkan adzan.

Mas Abdul Wahab dan Pak Agus Sunyoto telah membuka sebuah ruang dialogis-interaktif dengan pemeluk agama lain menggunakan kata kunci "Gus Dur". Andaikata saat itu dakwah yang dilakukan keduanya menampilkan pendekatan yang kaku dan raut muka bengis, mungkin bakal lebih banyak resistensi dari penduduk lokal.

Namun karena menggunakan nama Gus Dur sebagai keyword, maka keberadaannya lebih mudah diterima karena mereka yang non-muslim sedikit banyak memahami jalan pikiran Gus Dur sebagai perekat kebangsaan.

***

Gus Dur, kita tahu beberapa tahun silam menugaskan para Banser membantu aparat kepolisian berjaga di gereja. Banser bukan menjaga bangunannya, tapi membantu terlaksananya kebebasan beragama. Bahkan, Riyanto, salah seorang Banser harus gugur dalam tugasnya tatkala menenteng bom yang diletakkan di gereja Mojokerto oleh jaringan teroris Fathurrahman Al-Ghozi saat secara estafet meledakkan gereja di beberapa titik.

Sebagai Guru Bangsa, Gus Dur meletakkan aspek pluralitas dan multikulturalisme sebagai bagian tak terpisahkan bangsa ini. Beliau memberi contoh yang tak terucapkan, menjaga kerukunan antar umat beragama, dan secara tersirat memberi contoh "kami telah melindungi saudara seiman kalian di sini, jadi tolong lindungi saudara-saudara kami yang berada di situ, di wilayah non-muslim."

Ketika peristiwa pembakaran masjid di Tolikara terjadi, Idul Fitri 2015, dan beberapa ormas menyerukan jihad ke sana, Banser memilih bekerja dalam diam sembari menyerahkan kasus ini ke aparat penegak hukum.

Mereka mempersiapkan fisik, logistik dan mental untuk berangkat ke sana, menjelang Idul Adha. Tak kurang dari 15 Banser pilihan berangkat ke lokasi setelah sebelumnya mengikuti prosesi pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulid Simtudduror di rumah Nusron Wahid, Ketum GP Ansor saat itu.

Setelah acara usai, rombongan ini berziarah ke makam Habib Husein bin Abu Bakar bin Abdillah Luar Batang. Tanpa disengaja, di lokasi ini mereka bertemu Habib Lutfi bin Yahya, Rais Aam Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah. Mereka pun minta restu kepada ulama nasionalis ini.

Utusan PBNU ini tiba di Bandara Sentani, lalu berangkat ke lokasi dengan didampingi Banser setempat. Lalu tim menuju Bandara Wamena yang dilanjutkan perjalanan darat ke Tolikara.

Di lokasi, sebagaimana laporan AULA November 2015, mereka disambut Muspida setempat dan imam Masjid Tolikara, K. Ali Mashar. Persiapan shalat Idul Adha segera dilakukan di masjid Koramil. Para pemuda GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang ditengarai beberapa minggu sebelumnya terlibat pembakaran masjid, mereka malah mendekat dan ikut membantu Banser menjaga keberlangsungan Idul Adha.

Ketika orang-orang GIDI tahu jika yang datang adalah Banser, yang mereka tahu sebagai "anak-anak Gus Dur", para pemuda ini malah merasa segan atas peristiwa pembakaran masjid. Karena itu, mungkin untuk sedikit menebus rasa bersalah, mereka ikut pengamanan Idul Adha lalu ikut menyumbang 5 ekor sapi.

***

Bagi saya Gus Dur telah mengajarkan aspek substantif dalam konteks beragama dalam keberagamaan melalui sikap "....kami telah melindungi saudara seiman kalian di sini, jadi tolong lindungi saudara-saudara kami yang berada di situ, di wilayah non-muslim.", maupun prinsip mayoritas melindungi minoritas dan minoritas menghormati mayoritas.

Kedua prinsip memang enteng diucapkan namun dalam kenyataannya dibutuhkan kesabaran dan kehendak meredam ego sektarian agar kerukunan berbangsa dan bernegara tetap terjaga. Nggak usah adigang adigung adiguna menjadi mayoritas, juga tak perlu merengek manja sebagai minoritas. Semua harus tahu diri.

Semoga nama Gus Dur tetap menjadi "kata kunci" yang tepat untuk keberislaman dan keindonesiaan. Wallahu A'lam Bisshawab. [NU Online]

Rijal Mumazziq Zionis, santri Gus Dur

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/nama-gus-dur-tetap-bertuah-sebagai-juru-dakwah.html

Kamis, 10 November 2011

Isu PKI Itu Mainan Para Alumnus Amerika, Lalu Radikalis Mainan Siapa?

NU Online - Amerika mulai khawatir terhadap langkah politik internasional Presiden sekarang dengan membangun poros “Jakarta-Beijing-Taheran-Moskow” meliputi perdagangan, teknologi sipil, teknologi militer, kesehatan, nuklir dan investasi.

Hal yang paling merisaukan Amerika adalah hancurnya hegemoni mereka serta hilangnya kontrol atas geliat ekonomi di Indonesia yang pada akhirnya akan merubah kiblat negara-negara kawasan di Asia Tenggara mengikuti jejak langkah Indonesia yang progresif.

Isu PKI Itu Mainan Para Alumnus Amerika, Lalu Radikalis Mainan Siapa? - NU Online
Isu PKI Itu Mainan Para Alumnus Amerika, Lalu Radikalis Mainan Siapa? - NU Online


Isu PKI Itu Mainan Para Alumnus Amerika, Lalu Radikalis Mainan Siapa?

Ketakutan Amerika juga tidak terlepas dari kebijakan Presiden terhadap perpanjangan kontrak PT. Freeport Indonesia di bumi Papua, betapa besar kehilangan keuntungan bagi mereka apabila PT. Freeport Indonesia akan dimainkan Jokowi sebagai ‘capital politic’ pada pilpres tahun 2019 nanti, maka akan tamatlah Amerika di Indonesia.

Ada beberapa langkah yang telah dan mulai dimainkan oleh Amerika di Indonesia dalam rangka tetap dapat mengusai Indonesia seperti selama ini berhasil mereka lakukan;

1. Lewat bantuan Arab Saudi dengan memberikan suntikan dana besar kepada para radikalis dan teroris di Indonesia.

2. Lewat Mesir dan Turkey dengan menggerakan Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslim di Indonesia (HTI dan PKS).

3. Lewat Alumnus West Point, Minneapolis, dan kursus perwira Indonesia di negeri Paman Sam dengan memainkan isu bangkitnya PKI.

Baca: Habib yang Ketua Ansor Jember Ini Dibunuh PKI

Ada pertanyaan, apakah CIA bermain di sini, maka jawabnya tentu saja. Sebab sudah bukan rahasia lagi bahwa selama ini, mereka (CIA) telah merekrut alumnus sekolah perwira militer maupun para akademisi terbaik dari sipil yang pernah mengenyam pendidikan Amerika, dan terlihat dari unsur Radikalis merapat ke blok Amrikiyya ini.

Maka janganlah heran kalau yang menyebar isu anti Cina dan tuduhan bahwa Ahok bisa menjadi pemicunya mungkin mengarah ke tragedi tahun 1998, dan yang mengatakan bahwa hantu PKI itu memang nyata, serta yang membakar masa dalam pidato tentang bangkitnya ideologi komunis lewat PKI di Indonesia, semuanya adalah purnawirawan Jenderal lulusan Amerika. Apakah bukan kebetulan semata?

Sederhana saja jawabnya, bahwa pola yang dimainkan Amerika sangat mirip dengan yang terjadi pada situasi sebelum meledaknya G 30 S/PKI seperti contoh di bawah ini:

– Settingnya dulu adalah Tritura, juga terselip sentimen anti Cina. Golnya adalah jatuhnya Bung Karno. Dan saat ini setingnya adalah “Turunkan Jokowi dan hancurkan PKI”, targetnya jatuhkan Jokowi.

– Dulu Amerika memainkan kebodohan dan ambisi PKI dengan memusuhi para ulama dan agamawan, kemudian melakukan kudeta terhadap para Pahlawan Revolusi, maka saat ini digandengnya kaum radikalis yang anti Pancasila karena dianggap ajaran Thoghut untuk propaganda bangkitnya PKI. Padahal apa urusan mereka soal PKI, mereka itu jelas-jelas anti Pancasila dan ingin mendirikan Khilafah Islamiyah di Indonesia.

– Pola penghancuran Indonesia telah dilakukan lewat aksi teror dan rencana membagi Indonesia menjadi 18 sampai 20 negara baru sehingga mudah dikuasai sesuai kepentingan mereka. Langkah itu tidak membuahkan hasil, maka mereka (Amerika) lewat antek-antek mereka di Indonesia memainkan isu yang paling sensitive yaitu “Bangkitnya PKI”.

– Membangun fitnah terhadap pribadi Agus Wijoyo, purnawirawan Jenderal bintang 3 anak dari salah seorang Pahlawan Revolusi yang adalah tokoh penggagas serta pelopor rekonsiliasi antara anak mantan PKI dengan anak Pahlawan Revolusi. Sehingga ditimbulkanlah pertanyaan nyeleneh dari juga purnawirawan Jenderal lulusan Amerika bahwa perlu dipertanyakan apakah betul Agus Wijoyo itu anak dari Pahlawan Revolusi? Hal yang kemudian dibantah dan diluruskan oleh AM.

Hendropriyono, purnawirawan Jenderal mantan kepala BIN menyatakan bahwa dia kenal betul siapa Agus Wijoyo dan kenal betul siapa bapaknya. Sekarang isu bangkitnya PKI menjadi mainan yang menyatukan para alumnus Amerika baik sipil maupun militer bergandeng tangan dengan mesin penghancur Amerika di Timur Tengah yaitu kelompok radikal serta teroris berbaju agama.

Akankah kita Bangsa Indonesia dapat dihancurkan oleh mereka dengan cara-cara keji di atas? Tentu kondisi nya berbeda, karena langkah yang ditempuh Jokowi adalah sebagai berikut:

1. Membangun kekuatan TNI, baik lewat perbaikan Alusista, baik produksi dalam negeri maupun lewat pembelian dengan melirik Rusia sebagai mitra utama.

2. Membersihkan BIN dari agen ganda pengabdi kepada kepentingan Amerika dengan agen Merah Putih.

3. Menempatkan jabatan Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, serta juga Kapolri yang bukan lagi lulusan Amerika.

4. Membangun infrastruktur besar di Indonesia.

Semuanya adalah dalam memperkuat ketahanan nasional, serta meninggikan martabat bangsa dengan tidak lagi tunduk kepada kemauan Amerika. Maka malulah kita, kalau masih saja mau menjual diri kepada kepentingan Amerika. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/isu-pki-itu-mainan-para-alumnus-amerika-lalu-radikalis-mainan-siapa.html

Kamis, 22 September 2011

Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah

NU Online - Kabar duka menyebar ke seluruh penjuru negeri ketika KH. Agus Rifqi Ali bin KH. Ali Maksum bin KH. Maksum (Lasem) Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, wafat. Gus Kelik, sapaan akrabnya meninggal dunia pada Selasa (2/8/2016), pukul 22.10. Innalillahi wa inna ilahi rajiun.

Dalam pandangan saya, Gus Kelik adalah termasuk golongan para wali Allah. Hal ini terbukti sejak lahir, ia telah memperlihatkan keanehan yang tidak dilakukan kebanyakan kalangan, bahkan cenderung dianggap sebagai di luar nalar.

Seingat saya, KH. R. Hafidz Abdul Qodir bercerita bahwa Mbah Ali Maksum pernah meminta doa kepada KH. Abdul Hamid Pasuruan untuk Gus Kelik agar bisa hidup layaknya orang normal. Ternyata Mbah Hamid justru memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak harus diambil pusing. “Tidak apa-apa, tambah aku yang jaluk (minta) doa neng Gus Rifqi,” kata Mbah hamid kala itu.

Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah - NU Online
Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah - NU Online


Gus Kelik Krapyak Itu Wali Allah

NU Online

Semenjak itulah KH. Ali Maksum sayang kepada Gus Kelik, bahkan sampai berwasiat kepada keluarga “Jaga Rifqi, insya Allah masuk surga alias dialah yang merawatnya.”

Penulis pernah dipanggil Gus Kelik ketika hendak membeli rokok di Kopontren Al-Munawwir. Dengan mendekat, ia berkata: “Kang, ada uang seribu rupiah?” Saya jawab ada. Dan hampir setiap santri di Krapyak pernah dimintai uang yang nominalnya berbeda.

NU Online

Dalam keseharian, Gus Kelik memiliki kebiasaan mencari kardus di toko sekitar pesantren. Ia juga menyewakan alat katering. Anehnya, setiap tahun hasil dari usahanya ini digunakan memberangkatkan jamaah ziarah Wali Songo. Santri yang ikut diminta membayar semampunya, bahkan tidak sedikit yang gratis.

Keanehan yang tidak lumrah terhadap Gus Kelik, ketika kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Gur) di Pondok Krapyak. Kala itu Gus Dur tidak mau duduk kecuali berdampingan dengan Gus Kelik. Tidak hanya itu, justru Gus Dur lah yang mencium tangannya.

Gus Kelik dikatakan wali karena setelah menikah, ternyata memiliki pengetahuan dan pemahaman kitab kuning yang mumpuni. Ia juga bisa mengaji kitab dan memimpin shalawat. Padahal, semenjak kecil sampai dewasa tidak pernah menyentuh kitab apa pun.

“Nasib” para wali Allah apabila telah diketahui keunggulan dan kelebihannya justru berakibat usia yang singkat. Sehingga ketika sebagian kalangan sudah melihat derajat atau maqam kewalian yang dimiliki, ajal akhirnya menjemput yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah sosok Gus Kelik.

Ia wafat di RS Panembahan Senopati Bantul dalam usia 58 Tahun. Selamat jalan dan menemui Rabb-mu, dan kami mengiringi dengan untaian doa. [NU Online]

Ifdlolul Maghfur, santri Pesantren Madrasah Hufadz Krapyak (1999-2008) dan Pengurus PW LTN NU Jatim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/gus-kelik-krapyak-itu-wali-allah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs NU Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik NU Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan NU Online dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock