Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2016

KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya

NU Online - Habib Husain Al Aydrus Pethekan, Semarang, sampai usia 60-an tahun masih saja sendiri, alias belum menikah. Sampai kemudian pada sekitar tahun 1985-an, Habib Husain menghadiri undangan akad nikah kakak tertua KH. Muhajir Madad Salim, Demak, Jawa Tengah.

KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya - NU Online
KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya - NU Online


KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya

KH Maimoen Zubair Sarang yang masih kerabat dekat mempelai perempuan kemudian memberikan mauidhoh hasanah. Di antara isi ceramah itu adalah:

"Sepasang pengantin itu, kalau sudah didudukkan berdampingan begini, jangan dikira cuma dilihat banyak orang di alam dunia saja. Sepasang pengantin nanti di akhirat juga akan didudukkan berdampingan, bersama-sama masuk ke dalam surga," ujar Mbah Moen.

Hanya istri dari alam dunia saja yang bisa mendampinginya duduk di bangsal kencana di surga suaminya nanti. Sedangkan bidadari, mereka tidak. "Istri itu ibarat makanan pokok," lanjut Kiai Maimoen, "sedangkan bidadari cuma snack. Kalau dia butuh bidadari, maka bidadari baru dapat melayani. Jika tidak butuh, maka bidadari tidak bisa dekat-dekat dengannya," terangnya.

Jadi, orang-orang yang meninggal dunia sampai belum sempat menikah, maka keadaan mereka tidak sama dengan yang sudah menikah. "Bidadari itu ibarat jajan-jajanan. Kamu kok sama sekali tidak makan nasi, dan hanya makan jajanan-jajanan saja, maka tidak bisa kenyang. Perut malah bisa kembung," hadirin tertawa.

Mendengar petuah Mbah Moen itu, ketika pulang resepsi, Habib Husain langsung menikah. Ia menikah dalam usia setua itu karena takut kalau nanti di surga dirinya malah cuma dapat kembungnya saja, seperti dawuhnya Mbah Moen tersebut.

Kurang dari dua tahun setelah itu, Habib Husain wafat dalam keadaan sempurna alias sudah beristri di dunia. Harapannya tentu agar tidak sakit kembung di surga nantinya.

Nah, Anda yang masih ada kesempatan, masih muda, mampu memberikan nafkah lahir batin namun belum berpasangan, segeralah menikah. Niatkan mencari istri dunia akhirat. Soal dapat bidadari-bidadari, itu adalah bonus jika Anda tidak melakukan bom bunuh diri atas nama jihad konyol.

Jika belum menikah dalam keadaan jomblo sempurna, belum sempat berkeluarga, maka Anda akan seperti orang yang hanya mendapatkan bonusannya saja namun tidak mendapatkan hadiah utama. Yang membaca postingan akan mendapatkan jodoh secepatnya. Bagi yang menyebarkannya, cepat dijemput sang jodoh nya. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kh-maimoen-zubair-jika-istri-adalah-nasi-bidadari-snacknya.html

Selasa, 05 Juli 2016

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Jember, NU Online. Kalau mau menjadi anggota NU, niatilah untuk mencari ridlo Allah. Jangan berniat mencari sesuatu selain itu. Sebab, ketika berniat mencari sesuatu, pasti tidak akan didapat. Hal tersebut dikemukakan Ketua PCNU Jember, KH Abdulah Syamsul Arifin dalam sebuah acara pengajian Aswaja di Kaliwates, belum lama ini.

Menurutnya, jika berniat mencari keuntungan duniawi lewat NU, biasanya tidak akan pernah tercapai. Sebab, NU bukan lembaga profit. "Tapi jangan khawatir jika bekerja untuk NU dengan ikhlas, keuntungan dunia pasti mengikuti. Itu namnya barokah. Ini fakta," terang Gus Aab, sapaan akrabnya Rabu (31/8).

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)


Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Ia lalu menceritakan sisi barokah NU yang dia rasakan sebagai Ketua NU. Dikatakannya, dalam menghadiri undangan apa pun yang atas nama NU, ia mengaku tak pernah menggunakan kas NU, tapi uang pribadi.

Namun, lanjutnya, uang tersebut pasti diganti oleh Allah di tempat lain dengan cara yang lain pula. "Saya misalnya diundang ke kantor PWNU Jawa Timur, saya pakai uang sendiri untuk ongkos, tapi pulangnya insyaallah saya dapat lebih banyak dari ongkos yang saya keluarkan, karena saya masih mampir di sekian tempat untuk mengisi pengajian," tukasnya sambil tersenyum.

NU Online

NU Online

Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Jember itu lalu menyinggung kata-kata bijak yang sering diucapkan almarhum KH Muchit Muzadi terhadap pengurus NU. Katanya, kalau masuk atau menjadi pengurus NU, jangan berkata ingin membesarkan NU. NU tidak perlu dibesarkan. Sebab, NU sudah besar.

"Yang penting kita masuk NU, niat dandani awak. Ingin membenahi diri. Karena di NU kita berkumpul dengan ulama dan orang saleh. Itu kata Kiai Muchit. Jadi, dengan masuk NU, niat utama kita memperbaiki diri dulu. Lebih dari itu, NU menjadi kontrol sosial bagi kita. Kita jadi malu untuk berbuat yang tidak-tidak, apalagi pengurus," terangnya. (aryudi a razak/ abdullah alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70883/jika-masuk-nu-niati-untuk-perbaiki-diri

NU Online

Minggu, 22 Mei 2016

Mbah Maimoen: Dunia Tidak Akan Kiamat Selama Orang Masih Mau Mengaji

Rembang, NU Online. Dalam sebuah kesempatan mengajar, Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengatakan:



Mbah Maimoen: Dunia Tidak Akan Kiamat Selama Orang Masih Mau Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Maimoen: Dunia Tidak Akan Kiamat Selama Orang Masih Mau Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)


Mbah Maimoen: Dunia Tidak Akan Kiamat Selama Orang Masih Mau Mengaji

Artinya: Demi Allah Dzat Yang Maha Agung, pondok bukan wasilah ke surga,yang menjadi wasilah adalah ngajinya.

NU Online

Kiai sepuh yang pernah belajar di Makkah Al-Mukarromah lebih dari 2 tahun tersebut menerangkan bahwa pondok itu termasuk bagian dalam dunia. Banyak kiai yang tidak paham. Karena pondok itu kalau kiainya meninggal, anaknya akan saling berebut.

"Ini menunjukkan kalau pondok itu bagian dari dunia. Akidahku dan kakek-kakekku semuanya tidak pernah berharap pondok. Saya ngajar Ihya Ulumuddin dan kitab lainnya, di hati tidak ada sekelumitpun ingin punya pondok," terang putra pertama KH Zubair tersebut.

NU Online

Kiai yang lebih akrab disapa Mbah Moen ini juga berpesan agar tetap berpegang erat dan tetap mengutamakan budaya ngaji dan belajar kitab salaf. "Pokoknya yang harus dipegang erat, kamu harus ngaji dan mengajar kitab salaf. Dunia tidak akan kiamat selama orang masih mau mengaji," tuturnya. (Aan Ainun Najib/Zunus)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67425/mbah-maimoen-dunia-tidak-akan-kiamat-selama-orang-masih-mau-mengaji

Sabtu, 25 Mei 2013

Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil

NU Online - Dalam waktu belum lama berselang, lagi lagi kita dikejutkan oleh penangkapan perempuan oleh aparat kepolisian. Kasus pertama, penangkapan Dian Yulia Novi di Bekasi. Penangkapan Dian ini sekaligus membuktikan, jejaring terorisme bukan domain kaum lelaki semata, melainkan sudah melibatkan jejaring kaum perempuan secara aktif.

Bermula dari seorang tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yg bersimpati dengan perjuangan Islam di Suriah, Dian mengaku mengalami proses indoktrinasi jihad qital melalui internet, khususnya melalui jejaring Facebook dan situs radikal yang lain, termasuk situs jihad online yang dikelola Aman Abdurrahman.

Setahun mempelajari doktrin dan ajaran takfiri ustadz Aman dan perkenalan dengan jejaring teror Bahrun Naim via telegram, Dian merasa sudah sangat yakin dan siap menjadi "pengantin" yang hendak meledakan diri dengan target Istana Negara.

Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil - NU Online
Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil - NU Online


Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil

Kasus kedua, penangkapan Ika Puspitasari alias Salsabila di Purworejo. Perempuan lain yang juga diduga kuat teribat tindak pidana terorisme. Kasus ketiga, Penangkapan Jumiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima, isteri Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MTT) yang tewas tertembak dalam operasi Tinombala. Atun ditangkap di desa Tambarana, kecamatan Poso pesisir utara kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Ketiga perempuan ini telah berbaiat ke Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dibawah pimpinan Abu Bakar al Baghdadi yang bermarkas di Irak. Tiga kasus terakhir menambah daftar panjang perempuan yang sudah menjalani hukuman atas keterlibatan dalam tindak pidanan terorisme di Indonesia, antara lain Putri Munnawaroh, Inggrid Wahyu Cahyaningsih, Munfiatun, Rasidah binti Subari alias Najwa alias Firda, Ruqayah binti Husen Luceno, Deni Carmelita, Nurul Azmi Tibyani, Rosmawati dan Arina Rahma.

Dalam proses persidangan di pengadilan, nama-nama itu secara sah terlibat dalam tindak pidana terorisme dan saat ini sebagian dari mereka ada yang masih menjalani hukuman. Sebagian lain telah bebas dan telah menikah dengan napi terorisme lain yang masih menjalani hukuman di penjara.

Mengapa Perempuan? Ada beberapa argumen yang bisa menjawab mengapa sel jejaring Teroris NIIS di Indonesia kian gencar merekut perempuan untuk menjadi pelaku bom bunuh diri dan tidak sekedar aktif kegiatan dakwah dan bantuan logistik semata.

Pertama, sel NIIS Indonesia sedang meniru strategi dan taktik NIIS Internasional yang melibatkan perempuan dalam peran peran kombatan yang selama ini di dominasi oleh kaum laki-laki, termasuk pasukan artileri dan pasukan bom bunuh diri.

Strategi ini diambil mengingat jumlah kombatan NIIS di Irak dan Suriah terus berkurang akibar luka parah atau tewas dalam peperangan. NIIS di Irak dan Suriah saat ini mengalami banyak kekalahan. Menjadikan perempuan pelaku bom bunuh diri atau pasukan artileri dianggap efektif mengelabui pasukan lawan.

Begitu juga saat ini di Indonesia sedang terjadi fenomena yang sama. Berbagai penangkapan anggota NIIS di Indonesia telah membuat sel ini kekurangan kader dan kombatan sehingga konsolidasi kian susah dan menuntut taktik dan strategi baru. Maka, startegi untuk menjadikan perempuan sebagai martir adalah pilihan sebab keterdesakan.

Kedua, secara sosiologis perempuan dan anak anak termasuk kedalam kelompok rentan (the vulnerable groups). Dalam kasus Dian, pengalaman menjadi TKW di Singapura dan Taiwan selama 4,5 tahun menunjukkan Dian dari kalangan keluarga kurang mampu. Persisnya sekitar satu tahun, Dian mengaku sering membuka situs situs Facebook para jihadis di Suriah dan mengonsumsi berita dan artikel keagamaan di situs milahibrahim.net yang berisi ajaran ajaran Aman Abdurrahman tanpa nalar kritis.

Hal ini kian menguatkan hipotesis, latar belakang pendidikan keagamaan dan sempitnya akses informasi yang diserap Dian memudahkan Bahrun Naim via telegram dan Solihin sebagai "pseudo" Suami dalam ikatan perkawinan siri untuk merekrut Dian sebagai pelaku bom bunuh diri. Meski dalam jumlah masih terbilang sedikit, potensi bahaya dan dampak perkembangan baru ini cukup mengkhawatirkan. Tidak menutup kemungkinan di Indonesia ke depan, para perempuan menjadi martir.

Ketiga, banyak studi menunjukan, perempuan yang menjadi TKW mengalami kekerasan psikis dan fisik. Kekerasan ini lalu melahirkan patologi psikis berupa marah (anger), gelisah (anxiety) dan putus asa (despair). Patologi psikis ini menyebabkan mereka kian rentan terhadap pengaruh apa pun.

Semakin intens pengaruh luar yang masuk akan semakin kuat diserap mentah mentah. Dian tampaknya mengalami hal yang sama. Ketika dalam masa ketertekanan psikis ini, setiap manusia selalu butuh mekanisme pertahanan diri (self defence mechanism) untuk bertahan atas tekanan yang dialami.

Sayangnya, dalam kasus Dian, mekanisme pertahanan justru diperoleh dari jalan yang tidak benar, yakni penolakan total atas apa yang selama ini dimiliki, serta beralih total ke pengaruh doktrin NIIS, lalu merelakan diri jadi pelaku bom bunuh diri. Ini membuktikan TKW Indonesia di luar negeri saat ini termasuk target baru perekrutan dan target penggalangan dana untuk kepentingan NIIS.

NIIS dan Motif Perkawinan Solihin, suami Dian yang sekaligus anak buah Bahrun Naim, mengaku dalam satu wawancara, salah satu motif menikahi Dian adalah menjadikan pelaku istisyhadiyah (pelaku syahid) dengan cara apa pun. Dalam kasus Dian, ia mengaku diminta Solihin melakukan amaliah istisyhadiyah atas petunjuk Bahrun Naim.

Motif pernikahan seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam Al Qur'an dan hadis, tak pernah ada ajaran yang memperbolehkan motif dan tujuan perkawinan seperti yang dilakukan Solihin. Dalam Islam tujuan perkawinan adalah suci, yakni ibadah dalam rangka menjaga dan melanjutkan keturunan (hifdzun nasl) demi kesinambungan kehidupan manusia. Jika ada motif perkawinan dengan tujuan merusak kehidupan itu sendiri, tentu itu sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam.

Bahkan, dalam fikih Jihad, jika kita merujuk kitab kitab karya ulama, dalam konteks perang sekalipun, perempuan dan anak anak adalah kelompok yang harus dilindungi dan tidak boleh dilukai, apalagi dibunuh. Aturan ini sudah baku diatur dalam dalam kitab Fikih yang menjadi aturan hukum Islam.

Hal ini semata untuk menjaga kesinambungan generasi biar tetap bisa hidup dan melanjutkan kehidupan ini secara turun temurun. Karena itu, jika simpatisan NIIS menggunakan dalil untuk mengabsahkan motif menikahi perempuan dengan tujuan agar isteri mau melakukan amaliah istisyhadiyah, ini sudah jauh menyimpang dan melanggar ajaran atau doktrin Islam.

Tak ayal, melihat perkembangan baru yang mengkhawatirkan ini, pemerintah harus segera mengambil langkah langkah jitu. Pemerintah perlu memfasilitasi perwakilan ormas Islam di luar negeri untuk melakukan dakwah ke kantong TKI/TKW tentang bahaya paham NIIS yang aktif menyebarkan paham takfiri agar terhindar dari hasutan kelompok NIIS.

Pemerintah juga perlu melakukan rapid assessment terhadap para TKW/TKI yang pulang dari daerah konflik untuk memastikan paham keagamaan mereka tak membahayakan dan berpotensi merusak sendi sendi kebhinnekaan kita. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/motif-teroris-menikahi-perempuan-labil.html

Minggu, 16 Desember 2012

Naskah Khutbah Idul Adha 2016

Berikut ini adalah contoh naskah khutbah idul adha yang siap anda gunakan untuk mengisi khutbah sholat idul adha atau sholat jumat sekitar hari idul adha.

Oleh Makruf Khozin

Khutbah Pertama

Naskah Khutbah Idul Adha 2016 - NU Online
Naskah Khutbah Idul Adha 2016 - NU Online


Naskah Khutbah Idul Adha 2016

الله اكبر تسع مرات: -

NU Online

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ . الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بَعَثَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَقُدْوَةً لِلْعَامِلِيْنَ وَحُجَّةً عَلَى الْعِبَادِ أَجْمَعِيْنَ ، بَعَثَهُ بِدِيْنِ الْهُدَى وَالرَّحْمَةِ وَشَرَّعَ لِاُمَّتِهِ النَّحْرَ وَالتَّضْحِيَةَ ، اِقْتِدَاءً بِأَبِي الْاَنْبِيَاءِ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ اَزْكَى السَّلَامِ وَالتَّحِيَّةِ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin, Jamaah salat Idul Adlha, semoga senantiasa dalam rahmat dan perlindungan dari Allah. Mari kita saling mengingatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, dengan menjalankan perintah-perintahnya sesuai dengan kemampuan kita, dan menjauhi larangan-larangan Nya sekuat tenaga kita. Sebab hanya dengan takwa inilah yang akan mengantarkan kebahagiaan hidup, baik di dunia hingga di akhirat.

Allahu Akbar 3x. Hadirin Jamaah Idul Adlha, yarhamukumullah.

NU Online

Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan bahwa:

قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فَقَالَ : مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ؟ قَالُوْا : يَوْمَانِ كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ (رواه ابو داود واحمد والحاكم

Rasulullah tiba di Madinah dan mereka telah memiliki 2 hari untuk bersenang-senang di masa Jahiliyah. Maka Nabi bersabda: “Sungguh Allah telah mengganti bagi kalian sesuatu yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adlha dan Idul Fitri” (HR Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim dan lainnya)

Mengapa Rasulullah menilai keduanya lebih baik? Sebab dalam kedua hari raya tersebut terdapat 2 unsur keharmonisan ibadah, baik secara vertikal antara manusia dan Allah, atau secara horizontal antara sesama manusia.

Dalam Idul Fitri, nilai ibadah kepada Allah adalah berbentuk ibadah puasa sebulan penuh, sebagaimana dalam ayat:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ :البقرة/185

“... Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 185)

Sementara nilai ibadah kepada sesama manusia tercermin dalam zakat fitrah, seperti dalam firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى :الأعلى/14، 15

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (al-A’la, 14-15)

Dalam sebagian penafsiran ulama, ‘Tazakka’ artinya mengeluarkan zakat fitrah, ‘dzikir menyebut nama Allah’ artinya adalah bertakbir di malam hari raya, dan esok paginya dilanjutkan dengan Salat Idul Fitri.

Demikian halnya dengan Idul Adlha. Nilai ibadah kepada Allah diantaranya berbentuk melaksanakan ibadah haji dan umrah di Makkah, semoga kita mendapat anugerah dua ibadah tersebut. Sementara nilai ibadah terhadap sesama manusia adalah menyembelih binatang ternak yang dijelaskan dalam firman Allah:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ : الكوثر/2

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan ber-qurbanlah.” (al-Kautsar: 2)

Allahu Akbar 3x. Hadirin Jamaah Idul Adlha yang dirahmati oleh Allah

Ibadah Qurban adalah termasuk syariah yang telah diperintahkan oleh Allah kepada umat-umat terdahulu. Al-Quran telah menegaskan:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ :الحج/34

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka…" (al-Hajj: 34)

Kita mencoba mengurai dua contoh bentuk Qurban antara putra Nabi Adam dan Qurban oleh Nabi Ibrahim. Meski jarak terbentang jauh, namun keduanya memiliki benang merah. Allah mengisahkan dalam kalam-Nya yang mulia:

إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآَخَرِ :المائدة/27

“..Ketika dua putera Adam (Habil dan Qabil) mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).”

Habil yang diriwayatkan sebagai peternak, ia melakukan Qurban kepada Allah dari hasil ternak terbaiknya, sebuah domba besar. Sementara Qabil diriwayatkan sebagai petani, ia melakukan Qurban kepada Allah dari hasil panennya yang buruk. Maka Allah pun hanya menerima dari Habil. Wal hasil domba yang diqurbankan oleh Habil diangkat ke surga.

Pada masa yang jauh sesudahnya, di masa Nabi Ibrahim. Beliau diperintahkan melalui wahyu mimpi untuk menyembelih putra tersayangnya, Nabi Ismail. Setelah keduanya berpasrah kepada Allah untuk melakukan perintah itu, maka Allah berfirman:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ : الصافات/107

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (ash-Shaffat: 107)

Dari mana seekor sembelihan besar tersebut? Jawabannya adalah dari surga yang dahulu kala sebagai Qurban dari Habil, putra Nabi Adam, sebagaimana dijelaskan para ulama ahli Tafsir:

وَهُوَ الْكَبْشُ الَّذِي قَرَّبَهُ ابْنُ آدَمَ فَتُقُبِّلَ مِنْهُ (تفسير ابن كثير - ج 7 / ص 31

“Sembelihan yang disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah domba qurban Habil yang telah diterima” (Ibnu Katsir 7/31)

Dari dua peristiwa Qurban ini dapat kita ambil kesimpulan, bahwa apa yang telah di-Qurbankan untuk Allah tidaklah sia-sia, namun tetap terjaga dan dapat dikembalikan oleh Allah dengan kuasa-Nya yang tiada batas. Hal ini selaras dengan sabda dari Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama:

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا :رواه الترمذى

“Tidak ada amal manusia yang lebih dicintai oleh Allah di hari qurban dari pada mengalirkan darah hewan. Sebab hewan itu akan datang di hari kiamat dengan tanduknya, rambutnya dan kaki-kakinya” (HR al-Tirmidzi)

Sekali lagi dari hadis ini menunjukkan bahwa hewan yang telah kita Qurban-kan akan dikembalikan oleh Allah kepada kita kelak di akhirat. Hewan yang telah disembelih dan telah dibagikan kepada fakir-miskin tetap dalam kondisi utuh saat menjadi kendaraan kita menuju surga Allah. Kita tidak meragukan masalah ini karena Allah telah membuktikan dalam Qurban putra Nabi Adam dan Qurban di masa Nabi Ibrahim.

Akan tetapi untuk dapat mencapai tujuan tersebut tidaklah bisa sekedar mengandalkan sisi kekayaan uang saja, namun harus didasari dengan takwa:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ :الحج/37

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (al-Haj: 37).

Semoga amal ibadah Qurban kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, amin.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اِنَّ اَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ () لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ الحج/27، 28

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Makruf Khozin, Dewan Pakar Aswaja NU Center Jatim, dan anggota Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/naskah-khutbah-idul-adha-2016.html

Jumat, 06 Januari 2012

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

NU Online - Beredarnya uang baru Rp 1000 dengan gambar Pahlawan Aceh Cut Nyak Meutia memicu debat di kalangan publik Aceh. Ada yang berpendapat, Cut Nyak Meutia memang tidak memakai jilbab, apalagi model jilbab seperti model sekarang ini. Sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa perempuan Aceh khususnya dari kalangan pejuang sesungguhnya pribadi yang syar’i dan karenanya sudah pasti berjilbab atau berhijab.

Bagi yang yakin bahwa Cut Nyak Meutia tidak berjilbab mengacu kepada dokumen-dokumen dan lukisan yang pernah ada, dan memang Cut Nyak Meutia tidak berjilbab. Beberapa foto yang dimiliki oleh Belanda dan kini bisa diakses oleh publik juga tidak berjilbab atau tidak menggunakan penutup kepala.

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - NU Online
Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - NU Online


Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

Sebaliknya, bagi yang yakin perempuan Aceh memakai penutup rambut atau jilbab, berargumen dokumen yang beredar bukanlah cermin perempuan Aceh. Itu bagian dari propaganda Belanda untuk merusak citra perempuan Aceh.

Tuanku Warul Waliddin, keturunan dari Sultan Aceh terakhir meyakini bahwa perempuan Aceh sesunguhnya, khususnya perempuan pahlawan dari keturunan bangsawan, adalah pribadi yang syar’i dan karenanya berhijab. Berikut pandangannya yang ditulis di dinding facebook:

NU Online

“Seorang Bangsawan sejatinya memiliki identitas diri yang membedakan antara dirinya dengan kelas dibawahnya (terutama Pada masa itu). cara bertutur kata hingga berbusana adalah menentukan siapa dirinya dan latar belakangnya. pada photo ini, Yang berdiri ditengah adalah Teungku Putro Gamba Gadeng bin Tuanku Abdul Madjid yang merupakan Permaisuri Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah (Sultan Aceh Terakhir). Ibunda daripada Tuanku Raja Ibrahim. disamping kiri kanan beliau adalah para dedayang istana (lamiet). mengacu kepada trending topic mengenai kontroversi bagaimana seorang Cut Meutia dan Cut Nyak dhien yang notabene seorang keturunan bangsawan pada masanya seharusnya berbusana dapat dilihat pada photo ini. dayang berbusana tanpak rambut kepala meskipun badan tertutup rapi, dan seorang Permaisuri menutup aurat dari kepala hingga Ujung kaki. semoga memberi pencerahan.”

NU Online

Status Warul Waliddin Sebelumnya, Warul Waliddin juga pernah menggalang gerakan menghijabkan perempuan pejuang Aceh yang selama ini selalu ditampilkan tanpa hijab. "Jangan pernah lagi gambar Cut Nyak Dhien dan para syuhada perempuan kita ditampilkan tanpa hijab, sebagaimana keyakinan mereka," tandas Tuanku Warul Walidin, sebagaimana pernah dilansir sejumlah media.

Menurut Warul Waliddin, perempuan pejuang dari kalangan bangsawan Aceh adalah perempuan yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat sehingga berani terjun berjuang. "Dengan bekal pemahaman keagamaan itu maka tidak mungkin jika perempuan Aceh mengabaikan pakaian yang syar’i, tidak masuk akal," pungkasnya.

Tuanku Warul Walidin yang akrab disapa Raja Ubit itu menghimbau pemerintah untuk mau menggelar musyawarah terlebih dahulu manakala ingin menampilkan sosok pejuang Aceh khususnya pejuang perempuan. "Tidak berat untuk bertanya pada sejarawan Aceh dan pihak lainnya di Aceh agar hasilnya tidak malah melukai rakyat Aceh, atau menimbulkan kontroversi sesama rakyat di Aceh," pungkasnya. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cut-meutia-tidak-dijilbabi-pada-uang-kertas-1000-rupiah.html

Sabtu, 06 November 2010

Cak Nun: Kalau Meyakini Islam Itu Benar, Ngapain Dia Jadi Non-Islam?

NU Online - Menyikapi banyaknya ketegangan yang sisulut oleh sentimen agama pasca demo 411 2016, ada baiknya kita menyimak apa yang pernah diutarakan oleh Cak Nun tentang seksi tidaknya pasangan tetangga. Silakan simak:

Dalam suatu forum saya bertanya, ”Apakah anda punya tetangga ?”

Dijawab serentak, “Tentu punya”

Cak Nun: Kalau Meyakini Islam Itu Benar, Ngapain Dia Jadi Non-Islam? - NU Online
Cak Nun: Kalau Meyakini Islam Itu Benar, Ngapain Dia Jadi Non-Islam? - NU Online


Cak Nun: Kalau Meyakini Islam Itu Benar, Ngapain Dia Jadi Non-Islam?

“Punya istri enggak tetangga Anda ?”

NU Online

“Yaa, punya doong”

“Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu ?”

“Secara khusus tak pernah melihat,” kata hadirin di forum.

“Jari-jari kakinya lima atau tujuh ?”

“Tidak pernah memperhatikan”

“Body-nya sexy atau enggak ?”

Hadirin tertawa lepas.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka, “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan?"

Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan.

Biarkan saja.

Keyakinan keagamaan orang lain itu yaa ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apa pun.

Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati. Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam.

Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.

Tapi, sebagaimana istri tetangga. Itu disimpan saja di dalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.

Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. Sementara itu, orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silahkan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.

Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah.

Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.

Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok atau apa pun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng, bisa main gaple dan remi bersama. Bisa ngumpul nge WA, BB-an dan Facebookan,..dan media sosial lainnya,.. bersama.

Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco atau apapun. Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyąngkul dan olah sawah.

Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.

Semoga kita makin sadar akan pentingnya toleransi, solidaritas dan kerukunan. Bahwa semuanya itu indah nan Fitri. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/cak-nun-kalau-meyakini-islam-itu-benar-ngapain-dia-jadi-non-islam.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs NU Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik NU Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan NU Online dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock