Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2016

Darimanakah Datangnya Hoax?

NU Online - Hoax, yang seharusnya dibaca hōks, tapi kita di sini lebih senang membacanya seperti orang ingin muntah (howaks), berarti "memperdayai" atau "mengelabui". Tapi, hoax sekarang ini disamakan dengan "berita yang membohongi".

Darimanakah Datangnya Hoax? - NU Online
Darimanakah Datangnya Hoax? - NU Online


Darimanakah Datangnya Hoax?

Laporan Majalah Tempo (2 Januari 2017) membedakan hoax (berita palsu) dari fake news (berita rekayasa). Secara sangat ringkas, hoax masih menampilkan fakta tapi dilebih-lebihkan atau dipelintir untuk mendukung isu yang sedang aktual diperbincangkan. Fake news tidak merujuk fakta apa pun. Atau, kalau itu berupa foto adalah hasil penyuntingan. (Contoh: Tifatul Sembiring Ngapain Ikut Sebar Hoax)

Tujuan hoax dan fake news serupa belaka: membohongi orang lain dengan merekayasa fakta yang ada menjadi sangat provokatif atau menampilkan "fakta" dari praktik-prakti ilusif. Misalnya, tenaga kerja asing yang berasal dari Cina secara faktual berjumlah puluhan ribu. Oleh pembuat hoax digelembungkan menjadi dua puluhan juta. Tujuannya adalah menciptakan kekisruhan dan memompa semangat kebencian terhadap etnis Tionghoa.

Dalam jurnalisme tabloid yang menyukai kehebohan itu, hoax diarahkan ke dalam mantra: if it bleeds, it leads. Jika informasi yang dipelintir itu menciptakan pertikaian yang sungguh brutal, maka semakin pula layak dirayakan penuh kehebohan.

Hoax, sebenarnya, tidak muncul pada era digital ini . Secara etimologis (awal mula), kata ini diketahui telah ada sekitar 1796 untuk merujuk kata hocus. Kata itu, demikian Robert Nares (1753-1829) menjelaskan, merupakan ringkasan dari kata hocus pocus: sebuah jargon yang dipakai oleh pesulap yang berlagak. Hocus sendiri bermakna sebagai menipu atau mengibuli.

Jadi, hoax, hocus, juga hocus pocus di era internet ini merupakan hasil permainan yang menjadikan khalayak tersihir oleh muslihat hebat para pesulap informasi. Aksi tipu-tipu itu menjadikan orang banyak terkesima dan terpana. Tapi, ekspresi selanjutnya bukanlah wajah-wajah yang menghadirkan kekaguman, melainkan silang sengketa yang menggelontorkan perbantahan dan bahkan perkelahian.

Dari manakah datangnya hoax? Memang sulap dan memang sihir: dari "sulap fakta" turun ke "gelap mata". Begitulah. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/darimanakah-datangnya-hoax.html

Senin, 08 Februari 2016

Wisuda Ke-5, STAINU Jakarta Komit Cetak Sarjana Aswaja Profesional

Jakarta, NU Online. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda Ke-5 tingkat sarjana (S1) dan diploma (D3), Selasa (27/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Dalam prosesi penting tahunan inilah STAINU Jakarta berkomitmen untuk terus mencetak para sarjana Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah secara profesional.

Dalam sambutannya, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif mengatakan bahwa persaingan global di segala bidang semakin nampak. Tantangan ini sangat diperhatikan oleh STAINU Jakarta untuk mencetak sebanyak mungkin lulusan-lulusan berkualitas secara akademik.

Wisuda Ke-5, STAINU Jakarta Komit Cetak Sarjana Aswaja Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda Ke-5, STAINU Jakarta Komit Cetak Sarjana Aswaja Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)


Wisuda Ke-5, STAINU Jakarta Komit Cetak Sarjana Aswaja Profesional

Selain itu, tambahnya, lulusan berkualitas yang dihasilkan STAINU Jakarta tidak akan meninggalkan akar tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang berkembang selama berabad-abad.

NU Online

Hal ini hanya bisa dilakukan para lulusan jika dibekali dengan Aswaja yang memiliki karakter moderat, ramah, dan toleran. Pemahaman ini bahkan sudah menjadi kurikulum wajib di STAINU Jakarta, ujar Syahrizal.

Dia juga mengungkapkan bahwa perguruan tinggi yang dipimpinnya ini secara terus menerus akan melakukan reformasi perkuliahan secara digital. Selama ini sistem di STAINU Jakarta telah terintegrasi secara digital. Ke depan, imbuhnya, STAINU juga akan segara menerapkan sistem E-Learning.

NU Online

Di akhir sambutannya, Syahrizal berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar menjadi sarjana yang berperan nyata di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya dituntut bekerja pada bidangnya, tetapi juga bekerja secara profesional apapun bidang yang digelutinya.

Hadir dalam wisuda ini antara lain, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Menpora RI H Imam Nahrawi, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua BP3TNU H Marzuki Usman, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Ketua PP LP Maarif NU H Arifin Junaidi, para Dosen dan Civitas Akademika STAINU Jakarta.

Wisuda ke-5 ini, STAINU Jakarta berhasil mencetak 248 lulusan sarjana dan diploma dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Perbankan Syariah, dan Ahwalul Syakhsiyah.(Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71538/wisuda-ke-5-stainu-jakarta-komit-cetak-sarjana-aswaja-profesional

NU Online

Minggu, 20 September 2015

Mantan Menag Menangis Mendengar Program Cetak Al-Quran Dihentikan

NU Online - Program pemerintah sebelumnya melalui Kementerian Agama yakni satu rumah memiliki satu Kitab Suci Al-Quran terancam tak terwujud.

Mantan Menag Menangis Mendengar Program Cetak Al-Quran Dihentikan - NU Online
Mantan Menag Menangis Mendengar Program Cetak Al-Quran Dihentikan - NU Online


Mantan Menag Menangis Mendengar Program Cetak Al-Quran Dihentikan

Hal ini setelah mesin percetakan Al-Quran milik Kementerian Agama (Kemenag) yang digunakan untuk mewujudkan program tersebut segera "dikubur" dan mesin-mesinnya yang bernilai Rp 28 miliar segera menjadi besi tua. "Ya, jadi mesin besi karatan dan besi tua," ungkap mantan Menteri Agama RI, Maftuh Basuni, di kediamannya, Rabu malam (11/8) lalu.

Dengan nada sedih dan suara serak lantaran kesehatannya terganggu, menteri agama periode Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I tersebut mengatakan tidak habis pikir dana yang diinvestasikan demikian besar dan diharapkan dapat memenuhi harapan program satu rumah umat Islam dapat memiliki satu Al-Quran, dalam perjalanannya justru segera masuk "liang kubur" alias mati tak terurus.

Di lingkungan Kementerian Agama, lanjut dia, masih ada oknum yang tidak suka percetakan Al-Quran milik kementerian itu dapat berjalan dengan baik. Alasannya, bila percetakan itu berjalan bagus tentu ke depan pengadaan Alquran tidak lagi dilakukan dengan tender. Jika dengan tender, tentu ada komisinya.

"Ujungnya ya komisi," sebut Maftuh yang saat itu pembicaraan kerasnya didengar penulis biografinya, Lingga Akbar.

Lembaga percetakan Al-Quran dibangun dengan dukungan uang APBN dan akan dikelola sebagai badan layanan umum (BLU) di bawah pembinaan Departemen Agama (kini Kemenag). Dana yang dihabiskan mencapai Rp 30 miliar di atas lahan 1.530 meter.

Di atas lahan seluas itu ada mesin pracetak, mesin cetak web, mesin cetak warna, mesin cetak sheet DS4, dan mesin-mesin lainnya. "Saya mencari mesin cetak terbaik. Saat itu saya minta rekomendasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kenang Maftuh dengan nada meninggi.

Maftuh mengatakan, lembaga percetakan Alquran ini dibangun dengan uang dari APBN dan akan dikelola sebagai badan layanan umum (BLU) di bawah pembinaan Departemen Agama. Percetakan Alquran di Jalan Raya Puncak, Km 65, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, itu diresmikan pada 15 November 2008 dan mulai berhenti beroperasi sejak pertengahan 2015.

"Saya enggak tahu, sejak dicopot, mengapa percetakan itu tak jalan lagi," ungkap Samidin Nashir, melalui saluran telepon Kamis pagi.

Hadirnya percetakan Al-Quran ini sudah lebih dari 38 tahun dinantikan. Setelah Maftuh lengser, mencuat kasus korupsi Al-Quran di era menteri Suryadharma Ali. Padahal, percetakan tersebut tergolong modern, kapasitas produksi mencapai 1,5 juta eksemplar per tahun. Rencananya, percetakan itu diharapkan dapat menjadi awal menentukan bentuk pelat baku dan meminimalkan salah cetak Al-Quran.

Melalui standar pengawasan mutu ketat yang ditangani Lajnah Pentashih Al-Quran tentu kesalahan cetak bisa dihindari. Lagi pula, perlakuan mencetak kesuciannya terjaga. "Bukan sampul Alquran dijadikan terompet seperti kasus tahun lalu," ujarnya.

Percetakan itu kini hanya ditunggui penjaga. Tidak ada lagi aktivitas. "Sedih, walaupun saya sudah ngasih solusi ke sekjen Kemenag," ungkap Samidin. [NU Online] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/mantan-menag-menangis-mendengar-program-program-cetak-alquran-dihentikan.html

Rabu, 15 April 2015

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba Fardhu Ain

Bondowoso, NU Online. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, sejak dilantik, terbilang rajin menyabangi Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat (turba). Tujuannanya untuk pengayoman dan kaderisari.

Ketua PC IPPNU Bondowoso Robiatul Adawiyah menyebut pernah menyambangi PAC Telogo 2 kali, Jambesari dan Weringin, PAC Tegal Ampel 2 Kali dengan pembentukan Ketua IPPNU, ke SMA NU Bondowoso sampai 7 kali, Wonosari, ke Cermi 2 kali dan Curahdami.

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba Fardhu Ain (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba Fardhu Ain (Sumber Gambar : Nu Online)


Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba Fardhu Ain

Robik, panggilan akrabnya, mengaku sejak dilantik sebagai pengurus, bahkan sejak masih menjadi ketua dua (kaderisasi) periode 2012-2014 sudah melakulan hal itu. Hampir semua pembentukan saya hadir. Selama masih sanggup membentuk PAC dan PK, maka turba fardhu ain (kewajiban yang tak bids digantikan orang lain, red.) hukumnya," katanya kepada NU Online Jumat (18/12).

PAC dan Komisariat, kata dia, tidak cukup hanya dibentuk saja, tapi butuh pengayoman karena mereka masih banyak yang kurang mengerti. Jadi dari PC IPPNU sering turba mengarahkan bagaimana alurnya menjadi pengurus IPPNU.

NU Online

NU Online

Ia bercerita, dengan menyambangi PAC dan Komisariat, mereka antusias karena mereka merasa punya muara untuk menumpahkan beragam pertanyaan.

Robik menambahkan agenda terdekat di awal tahun 2016 akan mengadakan pelatihan batik tulis yang melibatkan pelajar putra putri dan remaja putri secara umum. Dari pelatihan tersebut, IPPNU ingin memberikan pengetahuan dan praktek untuk membuka lapangan pekerjaan. Juga melestarikan budaya indonesia dan warisan nenek moyang," tutupnya. (Ade Nurwahyu/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64401/bagi-ippnu-bondowoso-hukum-turba-ldquofardhu-lsquoainrdquo

NU Online

Sabtu, 25 Mei 2013

Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil

NU Online - Dalam waktu belum lama berselang, lagi lagi kita dikejutkan oleh penangkapan perempuan oleh aparat kepolisian. Kasus pertama, penangkapan Dian Yulia Novi di Bekasi. Penangkapan Dian ini sekaligus membuktikan, jejaring terorisme bukan domain kaum lelaki semata, melainkan sudah melibatkan jejaring kaum perempuan secara aktif.

Bermula dari seorang tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yg bersimpati dengan perjuangan Islam di Suriah, Dian mengaku mengalami proses indoktrinasi jihad qital melalui internet, khususnya melalui jejaring Facebook dan situs radikal yang lain, termasuk situs jihad online yang dikelola Aman Abdurrahman.

Setahun mempelajari doktrin dan ajaran takfiri ustadz Aman dan perkenalan dengan jejaring teror Bahrun Naim via telegram, Dian merasa sudah sangat yakin dan siap menjadi "pengantin" yang hendak meledakan diri dengan target Istana Negara.

Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil - NU Online
Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil - NU Online


Motif Teroris Menikahi Perempuan Labil

Kasus kedua, penangkapan Ika Puspitasari alias Salsabila di Purworejo. Perempuan lain yang juga diduga kuat teribat tindak pidana terorisme. Kasus ketiga, Penangkapan Jumiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima, isteri Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MTT) yang tewas tertembak dalam operasi Tinombala. Atun ditangkap di desa Tambarana, kecamatan Poso pesisir utara kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Ketiga perempuan ini telah berbaiat ke Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dibawah pimpinan Abu Bakar al Baghdadi yang bermarkas di Irak. Tiga kasus terakhir menambah daftar panjang perempuan yang sudah menjalani hukuman atas keterlibatan dalam tindak pidanan terorisme di Indonesia, antara lain Putri Munnawaroh, Inggrid Wahyu Cahyaningsih, Munfiatun, Rasidah binti Subari alias Najwa alias Firda, Ruqayah binti Husen Luceno, Deni Carmelita, Nurul Azmi Tibyani, Rosmawati dan Arina Rahma.

Dalam proses persidangan di pengadilan, nama-nama itu secara sah terlibat dalam tindak pidana terorisme dan saat ini sebagian dari mereka ada yang masih menjalani hukuman. Sebagian lain telah bebas dan telah menikah dengan napi terorisme lain yang masih menjalani hukuman di penjara.

Mengapa Perempuan? Ada beberapa argumen yang bisa menjawab mengapa sel jejaring Teroris NIIS di Indonesia kian gencar merekut perempuan untuk menjadi pelaku bom bunuh diri dan tidak sekedar aktif kegiatan dakwah dan bantuan logistik semata.

Pertama, sel NIIS Indonesia sedang meniru strategi dan taktik NIIS Internasional yang melibatkan perempuan dalam peran peran kombatan yang selama ini di dominasi oleh kaum laki-laki, termasuk pasukan artileri dan pasukan bom bunuh diri.

Strategi ini diambil mengingat jumlah kombatan NIIS di Irak dan Suriah terus berkurang akibar luka parah atau tewas dalam peperangan. NIIS di Irak dan Suriah saat ini mengalami banyak kekalahan. Menjadikan perempuan pelaku bom bunuh diri atau pasukan artileri dianggap efektif mengelabui pasukan lawan.

Begitu juga saat ini di Indonesia sedang terjadi fenomena yang sama. Berbagai penangkapan anggota NIIS di Indonesia telah membuat sel ini kekurangan kader dan kombatan sehingga konsolidasi kian susah dan menuntut taktik dan strategi baru. Maka, startegi untuk menjadikan perempuan sebagai martir adalah pilihan sebab keterdesakan.

Kedua, secara sosiologis perempuan dan anak anak termasuk kedalam kelompok rentan (the vulnerable groups). Dalam kasus Dian, pengalaman menjadi TKW di Singapura dan Taiwan selama 4,5 tahun menunjukkan Dian dari kalangan keluarga kurang mampu. Persisnya sekitar satu tahun, Dian mengaku sering membuka situs situs Facebook para jihadis di Suriah dan mengonsumsi berita dan artikel keagamaan di situs milahibrahim.net yang berisi ajaran ajaran Aman Abdurrahman tanpa nalar kritis.

Hal ini kian menguatkan hipotesis, latar belakang pendidikan keagamaan dan sempitnya akses informasi yang diserap Dian memudahkan Bahrun Naim via telegram dan Solihin sebagai "pseudo" Suami dalam ikatan perkawinan siri untuk merekrut Dian sebagai pelaku bom bunuh diri. Meski dalam jumlah masih terbilang sedikit, potensi bahaya dan dampak perkembangan baru ini cukup mengkhawatirkan. Tidak menutup kemungkinan di Indonesia ke depan, para perempuan menjadi martir.

Ketiga, banyak studi menunjukan, perempuan yang menjadi TKW mengalami kekerasan psikis dan fisik. Kekerasan ini lalu melahirkan patologi psikis berupa marah (anger), gelisah (anxiety) dan putus asa (despair). Patologi psikis ini menyebabkan mereka kian rentan terhadap pengaruh apa pun.

Semakin intens pengaruh luar yang masuk akan semakin kuat diserap mentah mentah. Dian tampaknya mengalami hal yang sama. Ketika dalam masa ketertekanan psikis ini, setiap manusia selalu butuh mekanisme pertahanan diri (self defence mechanism) untuk bertahan atas tekanan yang dialami.

Sayangnya, dalam kasus Dian, mekanisme pertahanan justru diperoleh dari jalan yang tidak benar, yakni penolakan total atas apa yang selama ini dimiliki, serta beralih total ke pengaruh doktrin NIIS, lalu merelakan diri jadi pelaku bom bunuh diri. Ini membuktikan TKW Indonesia di luar negeri saat ini termasuk target baru perekrutan dan target penggalangan dana untuk kepentingan NIIS.

NIIS dan Motif Perkawinan Solihin, suami Dian yang sekaligus anak buah Bahrun Naim, mengaku dalam satu wawancara, salah satu motif menikahi Dian adalah menjadikan pelaku istisyhadiyah (pelaku syahid) dengan cara apa pun. Dalam kasus Dian, ia mengaku diminta Solihin melakukan amaliah istisyhadiyah atas petunjuk Bahrun Naim.

Motif pernikahan seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam Al Qur'an dan hadis, tak pernah ada ajaran yang memperbolehkan motif dan tujuan perkawinan seperti yang dilakukan Solihin. Dalam Islam tujuan perkawinan adalah suci, yakni ibadah dalam rangka menjaga dan melanjutkan keturunan (hifdzun nasl) demi kesinambungan kehidupan manusia. Jika ada motif perkawinan dengan tujuan merusak kehidupan itu sendiri, tentu itu sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam.

Bahkan, dalam fikih Jihad, jika kita merujuk kitab kitab karya ulama, dalam konteks perang sekalipun, perempuan dan anak anak adalah kelompok yang harus dilindungi dan tidak boleh dilukai, apalagi dibunuh. Aturan ini sudah baku diatur dalam dalam kitab Fikih yang menjadi aturan hukum Islam.

Hal ini semata untuk menjaga kesinambungan generasi biar tetap bisa hidup dan melanjutkan kehidupan ini secara turun temurun. Karena itu, jika simpatisan NIIS menggunakan dalil untuk mengabsahkan motif menikahi perempuan dengan tujuan agar isteri mau melakukan amaliah istisyhadiyah, ini sudah jauh menyimpang dan melanggar ajaran atau doktrin Islam.

Tak ayal, melihat perkembangan baru yang mengkhawatirkan ini, pemerintah harus segera mengambil langkah langkah jitu. Pemerintah perlu memfasilitasi perwakilan ormas Islam di luar negeri untuk melakukan dakwah ke kantong TKI/TKW tentang bahaya paham NIIS yang aktif menyebarkan paham takfiri agar terhindar dari hasutan kelompok NIIS.

Pemerintah juga perlu melakukan rapid assessment terhadap para TKW/TKI yang pulang dari daerah konflik untuk memastikan paham keagamaan mereka tak membahayakan dan berpotensi merusak sendi sendi kebhinnekaan kita. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/motif-teroris-menikahi-perempuan-labil.html

Senin, 15 Oktober 2012

Beredar Kabar Saudi Menyiapkan Perayaan Maulid Nabi

NU Online - Ada kabar yang ditulis oleh situs situs online dan sebuah fanpage Facebook yang mengatakan kalau Saudi Arabia mengadakan "Persiapan Perayaan Maulid Nabi Muhammad 2016 di Gunung Uhud Madinah Arab Saudi". Beritanya seperti ini:

=========

Bagi beberapa golongan perayaan Maulid nabi Muhammad adalah sebuah dosa besar yang tidak termaafkan, bid'ah, sesat syirik dan pelakunya masuk neraka.. Dalil utama mereka sehingga mengharamkan perayaan hari lahirnya Baginda Rasulullah adalah karena nabi dan sahabat tak pernah melakukannya.

Beredar Kabar Saudi Menyiapkan Perayaan Maulid Nabi - NU Online
Beredar Kabar Saudi Menyiapkan Perayaan Maulid Nabi - NU Online


Beredar Kabar Saudi Menyiapkan Perayaan Maulid Nabi

Tapi anehnya, disaat mereka melarang perayaan hari lahir Baginda Nabi, namun mereka merayakan maulid dan haul guru besar bahkan raja mereka

Alhamdulillah berkat rahmat Allah yang maha pemberi hidayah, Perayaan maulid nabi di Saudi Arabia akan terlaksana, syukurlah banyak yang sudah mulai sadar akan arti dan makna maulid rasulullah SAW. Ulama mereka sekarang sefaham dengan mengatakan maulid bukan bid'ah tapi min afdlolil a'mal .

NU Online

Setelah ini kita tunggu reaksi dari jamaah mereka di indonesia, yang kemungkinan akan sangat kaget sekali melihat acara perayaan maulid nabi yang akan diadakan di Madinah di kawasan makam Sayyidina Hamzah Gunung Uhud. Yang mana gutu2 mereka diSaudi akan ikut merayakan maulid, masa iya pengikut mereka di Indonesia tidak mau?

Semoga kesadaran para guru mereka di saudi ini merambat keseluruh jamaah mereka diIndonesia, sehingga perkara furu' tentang maulid, yasinan, tahlilan, ziarah kubur dll tidak begitu dibesar-besarkan lagi. Semoga ukhuwah yang telah lama robek dalam perbedaan terjalin kembali dengan acara maulid nabi.

NU Online

Ini adalah foto persiapan maulid nabi yang diadakan oleh Saudi di kawasan gunung Uhud yang akan di laksanakan senin 12. Robiul Awwal /12/12/16 besok.

========

Berita di atas kemudian dilengkapi dengan beberapa foto. Di antara foto yang digunakan oleh pemuat berita tersebut adalah berikut:

Foto berita Saudi Arabia rayakan Maulid Nabi Atas beredarnya berita tersebut, beberapa pembaca NU Online menanyakan kebenaran kabar heboh yang sempat dishare oleh ribuan akun medsos tersebut. Dengan trik biasa menggunakan Google Images, redaksi kemudian menelusuri sumber foto pertama. Di mesin pencari Google, ternyata foto itu hanya ada di dua situs. Ini penampakan hasil investigasi tim redaksi NU Online.

Hasil penelusuran kesamaan foto persiiapan maulid Nabi di Saudi Foto-foto di situs tersebut, setelah dibuka, ternyata bukan dari sumber utama. Artinya, foto persiapan acara Maulid Nabi di Arab Saudi itu hanya nampak ada kursi, bentangan karpet merah, perlengkapan panggung dan aksesoris acara. Tidak ada background acara sebagaimana acara bersar tingkat negara.

Penelusuran keaslian foto dilanjutkan ke media sosial. Ternyata, sumber utama foto dari persiapan resepsi pernikahan seorang penyair Kota Madinah al-Munawwarah bernama Al Mu'tiq Al Iyadi Al Harby. Akun twitternya @MotakAlaiadi, telah mengklarifikasi kabar tersebut. Ini tweet Al Mu'tiq dalam bahasa Arab.

Tweet penyair Madinah tentang kabar Persiapan Maulid Nabi

Hasil penelusuran redaksi NU Online setidaknya mengonfirmasikan bahwa persiapan acara Maulid Nabi sebaggaimana dikabarkan di atas adalah belum akurat kebenarannya. Sah disebut hoax jika foto keterangan berita di atas ada sumber awal. Tweet akun @MotakAlaiadi memang memberikan kalrifikasi, tapi kapan resepsi nikah dilakukan, di mana tempatnya, belum berhasil ditemukan.

Sulit percaya jika Saudi Arabia "tobat" dari kebijakan Anti Maulid, hal yang selama ini tabu bahkan syirik dalam ideologi wahabi ala Saudi. Semakin tidak mudah mempercayai ketika ada sebuah ulasan dari admin situs Suara Madinah yang menyangkal Maulid Nabi di Pemerintahan Saudi, dari dulu hingga selamanya dan seterusnya. Ini status admin tersebut.

===============

Arab Saudi tidak pernah dan tidak akan selamanya merayakan Maulid Nabi shalaAllahu alaihi wasallam.

Cinta kepada Rasulullah shalaAllahu alaihi wasallam tidak perlu menyerupai kaum Nashara yang merayakan hari kelahirannya.

Akan tetapi Cinta kepada beliau adalah mengikuti Sunnah nya dan menyebarkannya serta bersabar di atasnya.

Tidak ada satu dalil Shahih menunjuk bolehnya Maulid, maka seakan akan orang menambah nambah Ibadah yang khawatirnya akan masuk menjadi amalan Muhdats (Baru dalam agama).

Sebagaimana tidak boleh menambah Bilangan shalat, waktu puasa ramadhan dan menambah nambah ibadah haji dan lainnya, begitu pula dengan Hal ini.

Asal Ibadah haruslah ada dalil, karena Islam telah sempurna dan Nabi pun tidak pernah merayakannya, Para Sahabat Juga tidak pernah merayakannya, hingga beberapa ratus tahun kemudian, baru Muncul pada masa Dinasti Fatimiyah, yang menganggap Manusia adalah Tuhan, yang kemudian binasa melalui tangan Shalahudin Al Ayubi.

Semoga kota tercerahkan, dan tidak perlu berdebat, karena Dalil adalah keberkahan sedangkan menyelisihinya adalah kebinasaan walaupun manusia menganggapnya baik.

Admin Suara Madinah

================

Jadi, berita tentang persiapan perayaan Maulid Nabi di Gunung Uhud Madinah, Arab Saudi, sulit ditemukan titik kebenaran faktanya. Silakan dilengkapi jika Anda menemukan fakta baru. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/beredar-kabar-saudi-menyiapkan-perayaan-maulid-nabi.html

Kamis, 19 Januari 2012

NU Jangan Sampai Dimanfaatkan Wahabi dan Syiah

NU Online - Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi mengatakan, diantara karakteristik yang melekat pada sebuah agama adalah munculnya berbagai perbedaan yang melahirkan setidaknya dua kelompok, yaitu tekstual dan yang mengedepankan tokoh.

NU Jangan Sampai Dimanfaatkan Wahabi dan Syiah - NU Online
NU Jangan Sampai Dimanfaatkan Wahabi dan Syiah - NU Online


NU Jangan Sampai Dimanfaatkan Wahabi dan Syiah

"Dalam agama Islam kelompok tekstual diwakili oleh Wahabi dan kelompok tokoh diwakili Syi’ah, Sayidina Ali, Hasan, Husain dan seterusnya. Pemikiran kedua kelompok ini enggak bakal ketemu, enggak bakal nyambung sehingga terjadi konflik," ungkapnya pada Pendidikan Kader NU di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Sabtu (27/2).

Ia menambahkan, posisi Ahlussunah wal-Jamaah pada umumnya, dan NU pada khususnya, berada di antara kedua kelompok tersebut sehingga sangat disarankan kepada warga NU untuk tidak terjebak dan terlibat dalam konflik keduanya.

KH. Masdar Farid Masudi "Posisi NU moderat, strategis. Jangan terprovokasi oleh Wahabi atau Syi’ah. Jangan mau dipinjam Wahabi atau Syiah karena kalau sampai NU ngurusi konflik mereka, mereka akan senang, nanti NU yang akan dikeroyok," tambahnya.

Untuk menyikapi konflik Wahabi -Syiah, sambung dia, bisa menggunakan teori kedokteran, yaitu teori patogin yang menyatakan bahwa di kanan-kiri tubuh kita banyak virus yang menyerang, virus-virus tersebut ada yang baik ada juga yang jahat.

"Apabila daya tahan tubuh kita baik, maka virus yang ada di kanan-kiri yang sebelumnya memusuhi akan menjadi bersahabat. Sebaliknya apabila daya tahan tubuh lemah, maka virus yang tadinya bersahabat akan menjadi musuh," terangnya.

Begitu pun dengan Wahabi-Syiah, sikap NU mestinya adalah memperkuat antibody supaya kuat dan kebal sehingga dengan terlibat dalam konflik keduanya hanya akan menguras energi. "Jangan mau jadi Jongos Wahabi untuk gebukin Syiah, jangan mau jadi jongos Syiah buat gebukin Wahabi. Itu namanya gebukin gratisan. Kita harus hemat energi," tandasnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi/NU Online)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/nu-jangan-sampai-dimanfaatkan-wahabi-dan-syiah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs NU Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik NU Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan NU Online dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock