Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi

Surabaya, NU Online. Nahdlatul Ulama patut berbangga lantaran dari hasil pengumuman Ujian Nasional (UN) 2013 untuk tingkat Madrasah Aliyah, ternyata didominasi madrasah dari kalangan lembaga pendidikan Maarif.

Perasaan bangga itu disampaikan oleh Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur, Akhmad Muzakki, PhD.

Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)


Maarif NU Bersyukur Sekolahnya Dominasi UN Tertinggi

Tahun ini kita layak bersyukur lantaran sejumlah siswa berprestasi adalah dari lembaga pendidikan di bawah LP Maarif, katanya.

Untuk tingkat Madrasah Aliyah Program IPA, ada nama Alif Kholifah dari MA Mathaliul Anwar Lamongan dengan nilai UN 57.00. Demikian juga Teguh Ari Wibowo dari MA Abu Dzarrin Bojonegoro dengan total nilai 56.85.

NU Online

Untuk program keagamaan tercatat Novi Octavia dari MA Tarbiyatut Thalabah Lamongan (55.35), kemudian Himatul Mukaromah dari MA MA Tarbiyatut Thalabah Lamongan (55.30).

NU Online

Sedangkan dari program SMK terdapat nama Ardi Pranata dari SMK NU I Karanggeneng Lamongan yang mengumpulkan nilai UN 38.20

Melihat hasil sangat istimewa ini, Muzakki menandaskan PW LP Maarif NU Jatim patut berbangga.

Hasil ini merupakan proses kerja keras para pendidik dalam mengelola kualitas pendidikan sesuai standar nasional pendidikan, tandas dosen pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini kepada NU Online (27/5).

Hasil ini menggambarkan bahwa tingkat pendidikan warga NU menunjukkan kualitas yang lebih baik, katanya. Apalagi fakta telah menunjukkan dimana jumlah madrasah dan sekolah di Lembaga Pendidikan Maarif NU Jatim mendominasi peringkat tertinggi, tidak terpaut jauh dengan sekolah negeri maupun madrasah negeri, lanjutnya.

Dalam pandangannya, prestasi yang diperoleh madrasah maupun sekolah di atas membuktikan bahwa lembaga pendidikan di bawah LP Maarif telah mampu menunjukkan kualitas yang berdaya saing tinggi pada satu sisi dan disertifikasi kualitas pada sisi yang lain.

Ada sejumlah pesan penting dari torehan ini yakni pertama bahwa tidak hanya di program keagamaan, Maarif berprestasi melalui madrasah-madrasahnya, melainkan juga program umum, baik melalui wadah SMA maupun SMK.

Kedua, meskipun berstatus swasta, tapi sekolah maupun madrasah di lingkungan Maarif mampu menunjukkan hasil yang tidak kalah baik dibandingkan sekolah negeri walaupun fasilitas pendukung harus diupayakan sendiri tanpa menggantungkan dari anggaran pemerintah atau negara, kata Muzakki.

Salah seorang komisioner Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur ini berharap agar prestasi yang diraih tersebut dapat melecut semua madrasah serta sekolah di lingkungan Maarif NU.

Kita berharap raihan ini kian membuat saling gayung bersambut dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan NU, pungkasnya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44736/maacircarif-nu-bersyukur-sekolahnya-dominasi-un-tertinggi

NU Online

Senin, 30 November 2015

Menjadi Modern dengan Islam

Jakarta, NU Online. Islam juga memiliki nilai-nilai modernitas, walaupun tidak seperti di Barat. Menjadi modern berarti hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki. Jadi yang diperlukan adalah konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Prof. Tariq Ramadhan dalam acara Dialog Islam Barat, Pengalaman Seorang Muslim Eropa di Perpustakaan Nasional (13/07)

Tariq Ramadhan yang merupakan cucu pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan al Banna menjelaskan bahwa Modernitas berbeda dengan modernisme karena modernisme mengarah pada sikap ekstrim. Secara umum nilai modernitas Barat meliputi Individualisme, Rasionalisme, Kebebasan, Kemajuan, dan Demokrasi.

Islam juga memiliki nilai-nilai tersebut akan tetapi terdapat perbedaan didalamnya. Dalam Islam tanggung jawab lebih dahulu daripada hak, individu memiliki sikap kolektif dalam bentuk umat yang berarti menghormati orang lain. Tariq berkata Hak pertama terdapat pada Allah dan justru karena itu, kita menghargai orang lain. Prinsip individualitas juga diakui bahwa kita pada akhirnya kita menghadap Allah sendiri-sendiri.

Islam juga mengenal prinsip rasionalitas, akan tetapi rasionalitas dalam Islam dibatasi oleh wahyu Ayat Iqra menunjukkan bahwa kita harus belajar dan hal ini bersifat rasional akan tetapi rasionalitas dalam Islam dibatasi oleh wahyu, sedangkan di Barat akal memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan segalanya ungkap Tariq.

Menjadi Modern dengan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Modern dengan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Menjadi Modern dengan Islam

Islam juga memiliki nilai-nilai kebebasan, akan tetapi kebebasan menurut ajaran Islam adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan dalam Islam berarti menghormati orang lain dan tidak merusak kolektifisme Bahwa kebebasan tersebut tidak mengganggu hak orang lain, ungkapnya.

Prinsip kemajuan juga dihargai dalam Islam. Ijtihad merupakan salah satu perwujudan dari prinsip keterbukaan terhadap hal-hal yang bersifat baru, akan tetapi proses ijtihad tersebut juga didasari rambu-rambu dan nilai-nilai yang terkandung dalam Quran dan Hadist. Kemajuan tercermin dalam bentuk ijtihad, namun demikian tetap dalam bingkai aturan tertentu dalam al Quran dan sunah sedangkan bagi Barat terbuka semuanya.

NU Online

Prinsip demokrasi berupa kebebasan untuk menentukan pilihan juga dijunjung tinggi dalam Islam, dengan menghargai orang lain, mematuhi hukum dll. Akan tetapi unsur ini tidak secara langsung dinyatakan dalam Al Quran sehingga harus disesuaikan dengan budaya lokal masing-masing daerah, bahkan ada bentuk demokrasi yang menamakannya syurokrasi, tambahnya

Tariq Ramadhan juga menjelaskan bahwa sekularisme tidak mesti bertentangan dengan Islam, terbukti dengan adanya pembagian urusan ibadah dan muamalah, dimana urusan ibadah adalah hubungan langsung dengan Allah sedangkan muamalah adalah hubungan antar manusia.

Harus diakui bahwa saat ini Barat memiliki kebudayaan yang lebih maju daripada dunia Timur dan hal ini menimbulkan sikap-sikap yang harus dihindari yang meliputi Pertama, merasa didominasi yang akan menimbulkan sikap lain, yaitu bahwa pihak-pihak yang bukan Islam ditolak, yaitu bersifat ekslusif terhadap pihak lain dan kedua adalah kekaguman total terhadap nilai-nilai Barat sehingga menelan mentah-mentah apa yang datang dari sana.

Hal lain yang juga harus dihindari adalah merasa menjadi korban yang tidak bisa berbuat apa-apa yang menimbulkan sikap pasrah terhadap nasib yang diterima dengan bersikap pasif. Untuk itu harus ditanamkan sikap inklusif dengan mengambil yang baik-baik dan menerima perbedaan yang ada dengan melakukan dialog Tidak semua yang datang dari Barat, Arab, maupun Indonesia merupakan hal yang baik, jadi harus dipilih, ungkapnya.

NU Online

Sikap lain yang juga harus dihindari adalah bersikap paranoid bahwa kebobrokan yang kita alami adalah diakibatkan oleh orang lain, bahwa pihak lain selalu mengancam keberadaan kita dan hal ini tidak membuat kita melakukan introspeksi.

Jadi yang penting adalah kembali ke prinsip universal Islam dimana Allah menciptakan makhluk bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan memahami. Ungkapnya.

Prinsip-prinsip tersebut merupakan sebuah nilai yang universal sedangkan model disesuaikan dengan kultur dan sejarah masing-masing. karena sesuatu yang dating dari Barat atau Arab cocok untuk diterapkan di daerah lain, ungkapnya.(mkf)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/381/menjadi-modern-dengan-islam

NU Online

Minggu, 31 Agustus 2014

Santri Paham Jurnalistik Baik Untuk Negeri

Way Kanan, NU Online. Santri harus menguasai ilmu jurnalistik karena sesuai tuntutan zaman dan memiliki manfaat positif. Media memiliki peran penting dalam mengabarkan peristiwa dan memberikan perspektif yang jelas.

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Assiddiqiyah 11 Way Kanan Kiai Imam Murtadlo di Kampung Labuhan Jaya, Kecamatan Gunung Labuhan, Way Kanan, Ahad (24/4).

Santri Paham Jurnalistik Baik Untuk Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Paham Jurnalistik Baik Untuk Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)


Santri Paham Jurnalistik Baik Untuk Negeri

Menurut Kiai Imam, media memunyai peran penting dalam membangun opini publik. "Jika yang dibangun positif, tidak menjadi soal. Jika sebaliknya, maka akan menjadi persoalan karena itu menjadi penting santri memahami ilmu jurnalistik," kata dia saat menyambut Santri Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016.

NU Online

Kiai Imam berterima kasih kepada pengurus GP Ansor setempat yang memberikan santri Assiddiqiyah 11 pengetahuan jurnalistik.

NU Online

"Kemarin sudah dilakukan pengenalan jurnalistik kepada santri, tentunya ini hal positif. Karena ada kegiatan berlangsung satu bulan, baik santri Assiddiqiyah atau BPUN harus diberikan dan mendalami ilmu itu. Negeri ini akan menjadi baik jika santri bisa ilmu jurnalistik," katanya lagi.

Kiai Imam menambahkan, media hari ini dipenuhi opini publlik yang sebagian besar negatif dan tidak selaras dengan Islam rahmatan lilalamin, NKRI, dan Pancasila.

"Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia. Silakan para santri merenungkan kata-kata itu," ujarnya.

Kepada santri BPUN, Kiai Imam mengajak mereka untuk bersabar dan menghargai proses agar menjadi orang berilmu dan bermanfaat.

"Peserta BPUN tidak salah mengikuti kegiatan ini. Selamat bergabung menjadi santri kendati satu bulan. Ahlan wa sahlan di pesantren perjuangan ini," ujarnya memotivasi santri BPUN.

GP Ansor Way Kanan menggelar Pesantren Kilat (Sanlat) BPUN 2016. GP Ansor Way Kanan merupakan satu-satunya pimpinan cabang di Sumatera yang menggelar program utama Yayasan Mata Air itu. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67576/santri-paham-jurnalistik-baik-untuk-negeri

NU Online

Rabu, 03 Juli 2013

Habib Luthfi: Ketika Baca Bismillah Untuk Toko Laris Tapi Lupa Allah

NU Online - Sebetulnya Bab wilayah atau kewalian dalam kitab Jami' Ushul fi al-Auliya adalah hanya untuk pengetahuan kita semua. Dari pelajaran itu kita ambil poin-poinnya saja. Adapun ahwal (perbuatan) dan amaliah para wali Allah sulit untuk bisa kita takar.

Habib Luthfi: Ketika Baca Bismillah Untuk Toko Laris Tapi Lupa Allah - NU Online
Habib Luthfi: Ketika Baca Bismillah Untuk Toko Laris Tapi Lupa Allah - NU Online


Habib Luthfi: Ketika Baca Bismillah Untuk Toko Laris Tapi Lupa Allah

Jangan ingin menjadi wali. Tapi yang seharusnya kita lakukan adalah bertanya, apa sebab beliau diangkat oleh Allah Swt. menjadi waliNya? Sebabnya hanya satu, yang terdiri dari dua hal, yakni ketaatannya kepada dua orangtua dan gurunya. Ini yang perlu kita tiru.

Kalau orang awam melakukan mujahadah malam, ibadah malam, membaca dzikir, membaca ayat sekian, membaca tasbih sekian, (hal itu dilakukan) menunggu kalau utangnya banyak, mendapat musibah dan cobaan. Atau (mendapat) sesuatu yang menjadikan susah pada dirinya, baru dia mencari kuncinya untuk mendekat kepada Allah Swt. Saat sudah berhasil terkadang lupa lagi pada Allah. Wajar-wajar saja karena kita tingkatannya orang awam, allahumma ma'lum, salah 3 dapatnya 7, salah 5 dapat(nilai)nya masih 8.

Tapi kalau tingkatan para wali Allah, benar semua malah dapatnya nol. Kenapa, karena tidak merasa. Apa yang telah dikerjakan tidak ke pribadi, melainkan dikembalikan semua dari dan kepada Allah Swt. Tidak merasa memiliki. Kalau menghadap kepada Allah Swt., ia melupakan semua yang sudah dibacanya, sudah dapat sekian khataman setiap malamnya, berdzikir sekian ribu kali. Beliau (wali Allah) tidak pernah mengingat-ingatnya di hadapan Allah Swt. Itu semata-semata ketaatan kepada Allah Swt.

Saat mendapatkan ijazah 'Bismillah' (misalnya) dari seorang kiai, dibaca sekian kali agar usahanya lancar, tokonya laris, rejekinya banyak, untungnya banyak, dlsb. Ketika dibaca (diamalkan) yang dibayangkan adalah usaha lancar, toko laris, rejeki dan untung yang banyak, ia lupa kepada Allah Swt. karena yang diingat adalah khasiatnya Bismillah (bukan Allah). Akhirnya mampir dulu, sehingga pantas jika tidak diberi langsung. Jika hatinya lepas (dari hal tersebut) dan betul-betul hanya ingat Allah, maka pasti akan diberi langsung.

Para wali Allah akan malu jika melakukan hal demikian. Para wali di hadapan Allah Swt. itu faqir, tidak merasa punya amaliah kebaikan sedikit pun dan tidak pula merasa bisa begini dan begitu. Hatinya selalu dibersihkan, tashfiyatul qulub watazkiyatun nufus, terus berusaha (bermujahadah) setiap malamnya.

Nah kalau tingkatan kita (awam), boro-boro. Alhamdulillah ada hadits Baginda Nabi Saw., "Kelak manusia akan dikumpulkan dengan orang-orang yang dicintainya." Kita bisa berdoa, "Allahumma amin". Semoga dikumpulkan bersama beliau, setiap shalat kita membaca "Ihdinasshirathal mustaqim". Dan berdoa (QS. an-Nisa ayat 69-70):

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ عَلِيمًا

Kunci yang pertama taat kepada dua orangtua, ini tangga/pintu yang paling luar biasa. Yang kedua adalah taat kepada guru. Taat kepada dua orangtua bukan sekadar taat-taat saja. Tapi ketaatan itu selalu menggugah kembali jasa-jasa orangtua kita pada diri kita. Kalau kita sering dzikrul walidain, mengingat dua orangtua, nasihatnya, bahkan jika sempat ditulis. Itu merupakan bagian dari dzikrul walidain, taat kepada dua orangtua. Karena dengan menceritakan kedua orangtua akan menambahkan kecintaan kepada mereka.

Nah bagaimana kalau Baginda Nabi Saw? Kalau kita sering membaca shalawat, otomatis akan semakin "dzikrun Nabiy" (mengingat Nabi), dan lama-lama akan muncul haya', malu kepada Baginda Nabi Saw.

Sifat manusiawi, timbul perasaan luar biasa jika cintanya kepada lawan jenis diterima. Dia akan menjaga cintanya betul-betul dan berusaha selalu jujur. Sangat takut putus cinta. Padahal diterimanya cinta tersebut dari lawan jenis tidak menjadi jaminan selamat dari siksa neraka. Tapi kepada dan dari Baginda Nabi Saw. itu menjadi jaminan, illa man aba (kecuali yang enggan/lari).

Ketika ayat turun, "Walasaufa yu'thika Rabbuka fatardha", Rasulullah tidak ridha kalau salah satu ummatnya masuk ke dalam api neraka, kecuali orang yang "aba", yang lari dari Baginda Nabi Saw. Jaminan bagi yang cinta kepada Nabi Saw., pasti akan mendapatkannya sebagaimana permintaan Nabi Saw. kepada Allah Swt. Anehnya, kita tidak pernah takut putus cinta kepada Baginda Nabi Saw.

Padahal saat seseorang putus cinta dengan lawan jenisnya, dia gandrung, bikin puisi sendiri, bikin sajak sendiri. Kalau dengar lagu-lagu yang berkenaan dengan waktu dia bercinta dengan seseorang masih terngiang sekalipun bagi orang lain tidak enak. Tapi orang ini senang karena lagu itu mempunyai kenangan, dingat-ingat terus. Masa' dengan Baginda Nabi Saw. tidak, aneh bin ajaib, mestinya kita harus takut putus cinta dengan Baginda Nabi Saw.

Berangkat dari birrul walidain tadi dan berangkat dari taat kepada para masyayikh (guru) kita, itulah kunci-kuncinya. Meskipun ilmunya sundul langit jika dengan dua orang tuanya tidak taat, jangan diharap ilmunya manfaat. Begitu juga kaya sekaya apapun tapi sama orangtua tidak taat, jangan diharap dunianya barokah, bagai air yang cepat habis.

Maka dari itu kita tadi mendengarkan keterangan bab wilayah (kewalian), kita hanya mengambil khulashah (ringkasan) orang-orang yang diangkat oleh Allah Swt. menjadi para waliNya, yakni dengan birrul walidain dan taat kepada gurunya.

Itulah yang menjadi sebab mengantar dirinya mendapat "Ridhallah fi ridhal walidain". Kita kembalikan juga "Ridhallah fi ridha rasulih", untuk ummat. Dan kita mengharapkan ridha Rasulullah Saw., karena apakah ridha orangtua lebih bernilai dari ridha Nabi Saw.? Untuk bisa menggapai keridhaan Nabi Saw. harus mencapai keridhaan orangtuanya. Baru kita akan mencapai ridha Allah Swt. [NU Online]

Keterangan: Ulasan di atas adalah transkip keterangan yang disampaikan oleh Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pada Pengajian Rutin Jum'at Kliwon, 20 Januari 2017. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/habib-luthfi-ketika-baca-bismillah-untuk-toko-laris-tapi-lupa-allah.html

Kamis, 03 Januari 2013

Terplih, Jawara Cerdas Cermat Aswaja

Jombang, NU Online. Puncak Olimpiade Aswaja untuk putra akhirnya mentahbiskan kontingen Pasuruan Jawa Timur sebagai juara pertama. Mereka dengan sangat meyakinkan mampu mengalahkan kontingen lain.

Kegiatan final cerdas cermat Olimpiade Aswaja untuk kontingen putra diselenggarakan Jumat malam (28/6). Olimpiade aswaja menjadi kegiatan asah otak di arena Perkemahan Wirakarya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimanas) yang berlangsung di Bumi Perkemahan Pondok Pesantren Babussalam, Kalibening, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Terplih, Jawara Cerdas Cermat Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Terplih, Jawara Cerdas Cermat Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)


Terplih, Jawara Cerdas Cermat Aswaja

Pada babak final olimpiade yang dikemas dengan sistem cerdas cermat Aswaja, regu dari Kabupaten Pasuruan berhasil meraih poin tertinggi.

NU Online

Regu dari Kabupaten Pasuruan yang digawangi oleh Asmoro, Muhammad Asad dan Muhammad Nur Kholis, perolehan suaranya tidak mampu dikejar regu dari Kabupaten Gresik, Sumenep dan dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebagai juara kedua adalah utusan dari PC LP Maarif Kabupaten Gresik, disusul berikutnya sebagai juara ketiga adalah Kabupaten Sumenep.

Dalam proses cerdas cermat Aswaja yang diselenggarakan di halaman Masjid Babussalam, Asmoro, Muhammad Asad dan Muhammad Nur Kholis mampu menjawab pertanyaan pertanyaan krusial yang diajukan kepada mereka. Jawaban-jawaban lugas mereka yang tergabung dalam regu D cerdas cermat Aswaja mampu menarik perhatian para juri yang terdiri dari Baidlowi Mufti, Hadi Syaifudin, dan Hiszbullah Huda.

Pada kalkulasi akhir, kontingen ini mampu mengumpulkan nilai sebanyak 1.693. Sementara, regu dari Kabupaten Gresik (regu C) mengumpulkan nilai 1.110, sedangkan Kabupaten Sumenep (regu B) mengumpulkan poin sebanyak 1.081. Sedangkan, kontingen NTB (regu A) meraih nilai terendah diantara peserta lainnya.

NU Online

Cerdas cermat aswaja merupakan babak final dari kegiatan Olimpiade Aswaja di arena Perwimanas. Hizbulloh Huda, Panitia bidang IT dan media yang menangani pelaksanaan olimpiade Aswaja mengungkapkan, untuk bisa mengikuti cerdas cermat aswaja, masing-masing kontingen peserta harus mampu melampaui proses seleksi panjang dan berliku. "Yang ikut cerdas cermat aswaja betul betul sudah terseleksi," ujar dosen Unsuri Surabaya ini.

Proses seleksi Olimpiade Aswaja, lanjut Hizbulloh, dimulai dengan babak penyisihan. Babak penyisihan terdiri dari babak 1 dan babak 2 yang dilakukan secara online. Pada babak penyisihan pertama, terdapat 60 regu atau kontingen yang berpacu untuk mendapatkan nilai terbaik melalui sistem online.

"Dari 60 kontingen atau regu yang ikut seleksi secara online, dipilih 30 peserta untuk ikut pada penyisihan kedua. Nah, dari 30 ini, dipilih 4 peserta untuk mengikuti babak final yang dilaksanakan dengan sistem cerdas cermat," kata Hizbulloh.

Malam sebelumnya dengan didampingi dua temannya, Siti Robiah berhasil secara meyakinkan sejumlah dewan juri, panitia serta suporter sehingga berhasil menjadi juara pertama. Kontingen dari PC LP Maarif Kencong ini mengumpulkan nilai 885.

Untuk juara kedua diraih utusan dari PC LP Maarif Sidoarjo dengan total nilai 722. Sedangkan kontingen dari Lumajang sebagai juara ketiga yang diikuti utusan dari Mojokerto sebagai juara empat.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45480/terplih-jawara-cerdas-cermat-aswaja

NU Online

Sabtu, 20 November 2010

Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim

NU Online - Harapan Aulia, siswi SMPIT Harapan Umat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk ikut bertanding dalam ajang bela diri tingkat provinsi Jawa Timur, kandas lantaran diduga karena ia memakai jilbab.

Siang malam berlatih, harus batal bertanding dalam laga yang digelar di Gelanggang Olahraga (GOR) Magetan, Jawa Timur (Jumat, 23/12/2016). Aulia saat itu diminta panitia untuk melepas jilbab yang dipakainya dan menggantikan dengan penutup kepala yang terbuka lehernya jika ingin berpartisipasi dalam kompetisi terebut. Namun, Aulia menolak karena penutup kepala tersebut dinilai tidak menutup keseluruhan auratnya.

Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim - NU Online
Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim - NU Online


Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim

"Peserta yang lain yang sebelumnya berjilbab, mulai melepas jilbabnya satu per satu. Tapi anak itu (Aulia) perlahan dengan air mata menggenang di pelupuk, ia melangkah meninggalkan arena pertandingan," terang Janan, guru Auliya, sebagaimana dikutip NU Online dari situs RMOL, Senin (26/12).

Atas insiden tersebut, seorang pengajar di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, bernam,a Maimon Herawati, menulis kritik dan keprihatinan kepada Auliya lewat akun media sosial Facebook. Ini statusnya.

NU Online

------------ Jumat, 23 Desember 2016, Magetan. Aulia bersiap mengikuti perlombaan Karate se-Jatim di GOR Magetan. Siswi Smpit Harapan Umat Ngawi ini mengenakan sabuk biru. Bersama Aulia, ada beberapa siswa lain yang juga berjilbab.

Menjelang pertandingan, juri memeriksa calon peserta. Saat itu, juri meminta peserta membuka jilbab. Aulia tercekat dan tercenung. Rekan peserta berjilbab lainnya membuka jilbab mereka. Aulia memilih meninggalkan lapangan. "Ya udah. Nggak bisa [bertanding]."

NU Online

Mengapa? "Kan dalam agama nggak boleh membuka aurat," jelas gadis cilik ini saat saya telpon baru saja.

Ada rasa sedih, itu pasti. Siang malam Aulia berlatih sekuat tenaga. Berangkat latihan pagi pagi sekali, lalu pulang menjelang dzuhur. Istirahat sejenak lalu pergi latihan lagi, dan baru kembali pulang jam setengah sembilan malam. Setiap hari.

Guru Aulia, Pak Ustadz Janan Farisi yang menulis tentang Aulia ini, bercerita kalau pihak official sudah berusaha protes pada juri. Tapi, tidak berhasil. Aulia didiskualifikasi karena tidak mau membuka jilbabnya.

Gadis cilik 13 tahun yang bercita-cita ingin menjadi dokter ini melantunkan doa dalam kesedihannya, semoga Allah ganti [pertandingan gagal karena mempertahankan jilbab ini] dengan yang lebih baik.

Engkaulah petarung sesungguhnya, Nak. Dan engkau telah menjadi juara. ---------------

Kini, Auliya hanya pasrah dan tetap berlatih karate meskipun dia tidak bisa bertanding pada saat itu. [NU Online]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/tak-mau-copot-jilbabnya-auliya-batal-ikut-pertandingan-karate-sejatim.html

Minggu, 13 Juni 2010

Gaya Hidup Warisan Orde Baru

NU Online - “Piye, Le; enak zamanku tho?!” Pertanyaan di bokong truk dengan gambar pak Harto mesem itu setiap kali berkelebat mengusikku. Aku selalu teringat presiden yang nyaris seperti raja itu terutama saat ada peristiwa kegilaan terhadap dunia, seperti kasus-kasus Korupsi dan Suap-menyuap; Politik Uang; Pejabat Publik dan Artis yang ‘tertangkap tangan’; Orang Pintar yang dapat memperbanyak uang; dan lain sebagainya.

Gaya Hidup Warisan Orde Baru - NU Online
Gaya Hidup Warisan Orde Baru - NU Online


Gaya Hidup Warisan Orde Baru

Kegilaan terhadap dunia atau materi dimulai dari keinginan menjadikan hidup ini sejahtera, hingga keinginan hidup mewah. Lalu keinginan lebih dan langgeng hidup mewah serta berkuasa. Biasanya berakhir dengan hilangnya akal dan nurani. Hubbud dunya ra’su kulli khathiah. Berlebih-lebihan menyukai dunia adalah sumber segala kesalahan.

Negeri ini mengenal 2 (dua) presiden yang nyaris seumur hidup. Soekarno dan Soeharto. Sambil ‘meledek’ Pemerintahan Soekarno dengan sebutan Orde Lama, kursi kepresidenan-nya pun diambil alih. Orde lama dikritik karena ‘mengangkat’ Politik sebagai Panglima. Alasannya: politik tidak membikin kenyang. Politik tidak enak. Lalu Soeharto pun mengganti dengan ‘Ekonomi sebagai Panglima’. Pembangunan ekonomi semesta pun dimulai.

Adalah wajar bila saat akan membangun ekonomi, yang dicontoh dan ditiru adalah negara-negar yang maju ekonominya. Ibarat mau membuka warung, tentu yang dicontoh dan ditiru adalah resto yang maju. Sayangnya, kita ini –di samping merupakan ‘bangsa peniru’—apabila meniru tidak melihat dan mempertimbangkan diri sendiri.

Mau meniru artis mancung India yang tampak cantik dengan anting besar di hidungnya, langsung niru tanpa mempertimbangkan hidungnya sendiri yang kecil dan pesek. Mau meniru peragawati Perancis yang tampak manis dengan rok spannya, langsung meniru pakai rok span; padahal tubuhnya ukuran jumbo. Melihat orang-orang Barat –yang memiliki 4 musim, termasuk musim dingin--memakai jas-dasi dan mantel, kita pun menirunya dengan bangga; lupa bahwa kita hidup di negeri tropis. Begitu dan seterusnya.

Ternyata saat Soeharto dan orbanya mau membangun ekonomi Indonesia, agaknya hanya meniru begitu saja negeri-negeri maju di Barat (apalagi tentu saja negeri-negeri itu mau menghutangi); tanpa melihat dan mempertimbangkan jati diri sendiri sebagai negara dan bangsa. Pancasila pun kemudian hanya dijadikan ‘proyek pembangunan’.

Maka yang terjadi pun praktek ekonomi kapitalis (cuma disini dengan kapital utangan) dan menghasilkan masyarakat yang materialistis. Masyarakat yang berlebihan menyukai dunia. Harta dan pangkat atau uang dan kedudukan. Apalagi dalam soal duniawi ini, Soeharto dan para pemimpin beserta keluarga mereka dengan sangat jitu memberi contoh dan teladan. Sehingga Hidup Sejahtera ditangkap bulat-bulat oleh banyak kalangan di masyarakat sebagai hidup kaya, berkedudukan, dan mewah.

Anggota Dewan yang dulu hanya diberi ongkos transportasi, karena kerjanya ‘cuma’ menyampaikan aspirasi rakyat dan mengontrol pemerintah, oleh pemerintahan Soeharto diberi gaji berlimpah, karena tugasnya jauh lebih berat, istiqamah menyetujui kehendak pemerintah atau diam. Maka sejak itu menjadi anggota parlemen dipandang sebagai mata pencaharian yang sangat menjanjikan. Pangkat dan harta teraup semuanya.

Pendidikan pun tentu saja direncanakan dan dibangun atas asas ‘kehidupan duniawi’ model itu. Bukan atas dasar jati diri dan falsafah bangsa. Orientasi dan proses pendidikan semuanya bermuara kepada kehidupan dunia ini semata. Ijazah dan cari kerja atau cari kedudukan adalah hal paling pokok dan penting melebihi apa saja. Maka Pendidikan pun hanya lebih merupakan pengajaran dan boleh dikata tanpa mendidik. Hasilnya pun kebanyakan adalah orang-orang terpelajar yang tidak terdidik.

Kemudian fenomena cepat-kilatnya orang mendapatkan sesuatu kekayaan dan pangkat, melahirkan gaya hidup baru. Gaya hidup instan yang mengukuhkan kehidupan serba duniawi itu. Ingin cepat kaya, ingin menjadi kiai atau sarjana, ingin pelanggaran tidak dihukum, ingin jadi artis, hingga ingin menjadi pemimpin pemerintahan, maunya sekejap. Kun fayakun. (Fenomena Gatot yang ‘menjerumuskan’ banyak artis dan Dimas Kanjeng yang ‘menjerumuskan’ Marwah Daud dan banyak orang pintar lainnya, hanyalah contoh kecil dari akibat mentalitas duniawi dan gaya hidup instan ini).

Maka ‘ajaran hidup’ warisan tinggalan Soeharto yang kemudian dilanjut-teruskan oleh murid-murid setianya ini belakangan menimbulkan masalah yang tak putus-putus. Dimulai dari persaingan kepentingan duniawi, rebutan kedudukan, dan keserakahan yang kemudian beranak-pinakkan korupsi, suap-menyuap, penipuan, pertikaian, hingga saling fitnah.

Menurutku, hendak melakukan Revolusi Mental, kita seharusnya melihat dan mengetahui lebih dahulu mentalitas kita selama ini. Lalu meninjau kembali dan mengkaji ulang pandangan kita selama ini, terutama tentang dunia dan tentang tujuan hidup kita di dunia ini. Dengan kata yang lebih singkat, kita perlu kembali ke jati diri kita sendiri. Kita harus kembali memandang dunia hanya sebagai persinggahan sebentar. Materi bukan segala-galanya.

Kiai Husein Muhammad dari Pesantren Arjawinangun, dalam hal ini, secara tidak langsung menawarkan gaya hidup Zuhud. Ini memang resep manjur yang biasa diberikan para tabib rohani. Membalik gaya hidup. Tapi menurutku ini terlalu drastis dan ekstrim. Bagaimana masyarakat yang sedemikian menyintai dunia (bahkan tingkat cintanya kepada dunia sudah sampai ke taraf menghilangkan akal-sehat), disuruh zuhud?

Bagaimana kalau kita mulai saja dari gerakan hidup sederhana? Kalau setuju, sekaranglah saatnya yang paling baik untuk memulai. Di Tahun Baru Hijriah ini, semoga Allah menolong dan membantu kita dalam rangka ‘hijrah’ dari berlebih-lebihan memandang dunia kepada kesederhanaan. ‘Hijrah’ dari menganggap materi sebagai segala-galanya kepada hanya sekedar sarana. Semoga Allah menolong dan membantu kita dalam melakukan kesibukan yang semakin mendekatkan diri kita kepadaNya. Amin. [NU Online/ab] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gaya-hidup-warisan-orde-baru.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs NU Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik NU Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan NU Online dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock